
SENGKETA terkait klaim wilayah di kawasan Laut China Selatan (LCS) antara China dan Filipina belum ada solusinya, bahkan makin memanas diwarnai perang retorika antara petinggi kedua negara.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr baru-baru ini menilai situasi saat ini cukup mencemaskan dan menyatakan, negaranya harus terus menegakkan haknya sesuai amanat konstitusi dan tata cara hubungan internasional yang berlaku.
Namun demikian, ia mengaku, upaya diplomasi yang dilakukan terkait sengketa China – Filipina menuju ke arah memprihatinkan dan pihaknya sejauh ini masih menggunakan metode diplomasi tradisional yang walau pun sudah dilakukan bertahun-tahun hasilnya sangat kecil.
Sebaliknya, Kedubes China merespons pernyataan Marcos dengan menyebutkan, pihaknya terus membuka pintu dialog dan berharap Filipina tidak menutup pintu tersebut.
Sebelumnya, Menlu Filipina Enrique Manalo membenarkan bahwa ia telah menelpon Menlu China Wang Yi (20/12) lalu dan mengaku pembicaraan berakhir dengan pemahaman lebih jernih tentang posisi masing-masing.
Manalo menggunakan istilah ‘jujur dan tanpa dirancang” untuk menyebutkan pembicaraannya dengan Wang – suatu istilah yang sering digunakan dalam diplomasi untuk menggambarkan selisih paham atau pernyataan keras yang dilontarkan di antara para pihak.
Sedangkan Wang Yi berpendapat, China dan Filipina harus terus membuka dialog bilateral terkait sengketa LCS, dan mewantai-wanti untuk tidak melibatkan pihak luar.
Sebaliknya merasa tidak mampu menegakkan kedaulatannya di LCS sendirian, karena diperlukan dana besar untuk membangun kekuatan militer, Filipina menggandeng patroli bersama dengan AS, Australia dan Jepang.
Filipina menggugat klaim China ke Mahkamah Internasional dan memenanginya pada 2016 dimana klaim China dianggap tidak sah dan tidak memiliki landasan sesuai hukum internasional.
Sebaliknya China tetap bersikukuh mengklaim 90 persen dari dua juta KM2 perairan LCS yang masuk dalam sembilan garis putus-putus (nine-dash line) dianggapnya merupakan wilayah tangkapan ikan nelayan tradisionalnya sejak pertengahan abad lalu.
Selain dengan Filipina, China juga bersengketa terkait klaim wilayah di LCS dengan Malaysia, Brunei Darussalam da Vietnam.
Sejumlah insiden terjadi antara Filipina dan China di LCS dan yang teranyar China dilaporkan mencegat kapal-kapal Filipina yang akan memasok logistik untuk kapal tua yang digunakan pos penjagaan, BRP Sierra Madre di Karang Second Thomas atau Beting Ayungin.
Dalam insiden sebelumnya Oktober lalu, kapal penjaga pantai China memasang pembatas apung (buoy) sepanjang 300 meter di titik karang Scarborough atau nama Filipinanya Bajo de Masinlok.
Jika kode perilaku (Code of Conduct) di LCS yang dirumuskan oleh ASEAN tidak segera ditegakkan, sengketa antara negara-negara di sekitarnya bisa memicu perlombaan senjata diwarnai pembentukan blok-blok.




