Harga Beras Naik Tak Untungkan Petani

Petani padi tak diuntungkan dengan kenaikan harga beras, karena mereka juga membeli untuk dikonsumsi dengan harga mahal

LONJAKAN harga beras dalam dua tiga bulan terakhir ini selain membebani konsumen terutama warga kelas menegah ke bawah yang tinggal di perkotaan,  juga memukul petani, buruh tani dan pekerja sektor pertanian.

Menurut catatan BPS, harga beras yang rata-rata Rp7.084,3 per kg pada 2010, hanya turun dari 2020 (dari Rp12.000) ke Rp10.395 pda 2021, lalu naik lagi ke Rp13.993 pada akhir Februari 2024.

Pergerakan harga beras belum terhenti, paling tidak berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis sampai Jumat lalu (1/3) mencapai Rp15.950 per kg.

Kelompok kelas menengah ke bawah seperti petani, buruh tani padi dan pekerja sektor pertanian menanggung beban lebih berat ketimbang golongan atas akibat kenaikan harga beras yang berimbas pada kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.

Untuk menyiasati lonjakan harga beras, mereka terpaksa mengincar operasi pasar yang dilakukan pemerintah melalui program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di berbagai kota-kota di Indonesia dimana beras yang disediakan ludesa hanya dalam hitungan jam.

Sejumlah warga di lokasi-lokasi operasi pasar seperti di Cirebon, Gresik, Sidorajo, Kendari dan Pontianak umumnya menyambut baik program Operasi Pasar dan berharap lebih sering dilakukan. Beras medium yang diperuntukkan Operasi Pasar dijual Rp10.900 per kg, jauh di bawah harga pasar yang mencaai Rp14.000-an per kg.

Sementara KepalaB dan Pangan Nasioal (Bapanas) Arief Praetyo Adi memperkirakan, harga beras bakal terkoreksi dalam dua atau tiga pekan mendatang sejalan dengan makin meluasnya areal panen.

 

Petani cemas, Harga Gabah Turun

Sementara menyongsong panen raya akhir Maret atau awal April,

petani mencemaskan anjloknya harga jual gabah yang dihasilkan  mereka, padahal biaya produksi naik dan langkanya pupuk bersubsidi dan serangan hama sehingga ongkos tanam naik dari Rp8 juta ke Rp10 juta per Ha.

Dalam beberapa hari terakhir ini, seperti yang juga disampaikan oleh Presiden Jokowi, harga beras mulai bergerak turun. Di Demak, Jateng, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani turun dari Rp8.000 per kg menjadi Rp 7.200.

Beras selain bahan pangan utama penduduk Indonesia yang permintaannya bakal meningkat menyongsong Ramadhan dan Idul Fitri, juga komoditi politis yang bisa dimanfaatkan pasca Pemilu Serentak 2024.

Lagi pula,  kredo “perut tidak dapat menunggu” juga merupakan keniscayaam yang tidak bisa dibantah.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here