
SEJARAH pengembangan kapal induk AS dimulai sejak pertengahan abad ke-20.
Amerika Serikat (AS) pada 1922 mengubah kapal pengangkut batubara menjadi kapal induk pertamanya. USS Langley (CV-1) segera diikuti oleh USS Lexington dan USS Saratoga, dua kapal penjelajah yang dimodifikasi.
Dengan ketiga kapal ini, Amerika tidak hanya mampu bersaing dengan Inggris Raya, tetapi juga dengan Jepang, yang AL-nya hadir di Samudera Pasifik bagian barat.
Di antara dua perang besar, ketiga kekuatan angkatan laut ini bergabung dengan Italia dan Prancis untuk mencoba membatasi ukuran dan biaya armada mereka.
Ketiga negara menandatangani Perjanjian Washington pada 1922, memuat pembatasan tonase kapal perang, yang masih dianggap sebagai kapal utama semua angkatan laut.
Namun, kapal induk juga dibatasi oleh perjanjian tersebut. Perjanjian Washington bertahan tanpa tantangan selama dua belas tahun. AS mulai membangun kapal induk yang lebih besar pada 1937, dan menggunakannya pada 1941 setelah serangan Jepang terhadap Pearl Harbor.
Era nuklir
Seiring dengan menguatnya era perang dingin dan perlombaan senjata nuklir, AS pun mengembangkan kapal induk berbahan bakar tenaga nuklir.
USS Enterprise (CVN-65) diluncurkan pada tahun 1961, menjadi kapal induk bertenaga nuklir pertama di dunia.
Tenaga nuklir memungkinkan kapal berlayar selama bertahun-tahun tanpa perlu mengisi ulang bahan bakar kapal.
Selanjutnya dikembangkan kelas Nimitz yang menjadi standar armada kapal induk AS selama beberapa dekade.
Ada 10 unit kapal kelas Nimitz yang dibangun, dengan USS Nimitz menjadi kapal induk tertua yang masih beroperasi hingga saat ini.
USS Gerald R. Ford (CVN 78) yang sempat dikirim ke Timur Tengah baru-baru ini adalah salah satu kapal induk kelas Nimitz .
Masing-masing memiliki lambung dengan desain dan panjang yang sama, dapat mengangkut 75-an pesawat berbagai jenis dan berkecepatan lebih dari 30 knot.
Negara yang mengoperasikan kapal induk bisa dihitung dengan jari yakni AS, China, Inggeris, Itaia, India Perancis dan Rusia.
Sedangkan Jepang, Spanyol dan Thailand memiliki kapal serbu amfibi yang bisa membawa helikopter atau pesawat yang bisa take-off atau landing vertikal (VTOL).
TNI-AL juga sudah mengakuisisi kapal induk seken Italia Giuseppe Garibaldi yang dijadwalkan tiba menjelang HUT TNI Oktober tahun ini. (CNNI/ns)




