Cara Mudah Ajari Anak Berwakaf sejak Dini

Ilustrasi wakaf. (Foto: Ist)

JAKARTA – Di era digital yang mempermudah aktivitas masyarakat, wakaf menjadi tren untuk memberikan bantuan kepada sesama. Dengan menggunakan platform digital, orang tua dapat mengajarkan anak-anak tentang wakaf untuk berbagi rezeki.

Lantas, bagaimana cara menanamkan sikap berwakaf kepada anak-anak? Ikuti cara sederhana berikut ini untuk mengajari anak-anak tentang wakaf sejak dini.

Ceritakan Kisah Nabi tentang Wakaf

Ayah dan ibu dapat mengenalkan konsep wakaf kepada anak-anak dengan menggunakan kisah-kisah teladan dari kehidupan Nabi. Salah satu kisah populer tentang wakaf terjadi pada masa Rasulullah SAW.

Pada waktu itu, Rasulullah SAW melakukan perbuatan mulia dengan mewakafkan tanah miliknya untuk pembangunan Masjid Nabawi. Tindakan wakaf ini kemudian diikuti oleh perilaku yang sama dari sahabat Nabi, Utsman bin Affan dan Abu Thalhah.

Utsman bin Affan membeli sumur dan kemudian mewakafkannya untuk memenuhi kebutuhan air bersih umat Muslim. Sebelumnya, pemilik sumur tersebut biasanya menetapkan harga yang tinggi, menyebabkan kesulitan bagi umat Islam untuk mendapatkan air bersih.

Di sisi lain, Abu Thalhah mewakafkan kebun miliknya sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW setelah turunnya surah Ali Imran ayat 92 yang artinya:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” 

Tanamkan kepada anak bahwa wakaf merupakan bagian dari mencintai harta dengan cara mengangkat derajat orang lain agar mendapatkan kesempatan yang sama atau lebih baik.

Ajari Anak Wakaf dengan Sisihkan Uang Jajan

Hendaknya orang tua mengajarkan anak sesuai dengan tingkat pemikirannya. Akan sulit menanamkan pemahaman wakaf kepada anak jika diasosiasikan dengan materi besar seperti tanah. Ibaratkan wakaf layaknya patungan untuk membeli barang yang bermanfaat secara bersama-sama.

Hal tersebut disebut sebagai wakaf melalui uang, objek wakafnya bukan uang yang diserahkan pewakaf, melainkan peruntukannya. Misalnya, anak berdonasi ke suatu lembaga/yayasan untuk pendirian rumah sakit.

Ajari anak untuk sisihkan uang jajan demi bisa berwakaf, seperti Rp 10.000. Bagi sebagian orang, 10 ribu terdengar sedikit sekali, tetapi jangan remehkan kekuatannya. Kuncinya adalah konsisten, dengan begitu jumlah kecil lama kelamaan menjadi besar. Sedikit-dikit, lama-lama jadi bukit.

Wakaf, Sedekah Pembawa Kebahagiaan

Studi tahun 2008 oleh Profesor Michael dari Harvard Business School menemukan bahwa kegiatan charity, seperti memberikan uang, dapat meningkatkan kebahagiaan daripada menghabiskan uang sendirian.

Dilansir dari Greater Good Magazine University of California, Berkeley, studi tahun 2006 menemukan psikologis seseorang membaik dengan beramal. Terdapat zat otak yang aktif terkait dengan kesenangan, hubungan sosial, dan kepercayaan. Berbagi menimbulkan perasaan senang karena merasa puas melihat orang lain terbantu oleh tindakan kita.

Begitu pula dengan wakaf. Selain membawa kebahagiaan, amal ini tidak akan pernah terputus. Harta secara fisik tidak akan pernah bisa dibawa hingga ke liang lahat, tetapi wakaf membuat nilai manfaatnya tetap utuh, mengalir, dan kekal di akhirat.

Ajari Anak Wakaf dengan Empati

Wakaf menumbuhkan empati pada anak dan menambah wawasan bahwa tidak semua orang di muka bumi ini memiliki keberuntungan yang sama. Sebagian kekayaan dan kemampuan yang kita miliki merupakan hak orang lain. Apa yang tidak berarti buat kita, belum tentu di mata orang lain.

Wakaf menjadi penerang bagi orang lain untuk bertahan hidup, apalagi di masa pandemi saat ini. Barang wakaf dapat membuka kesempatan lebar bagi orang lain yang berjuang di jalan Allah.

Tidak sampai 5 menit, berwakaf secara digital membantu orang-orang tangguh untuk lebih kuat menghadapi masa depannya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here