3 Penyesalan Orang yang Sudah Meninggal

Ilustrasi Pemakaman Baqi di Madinah/ CC Via Antara

JAKARTA – Pernahkah kita merasa menyesal setelah memberikan sedekah? Sebenarnya, ada kemungkinan besar bahwa saat mendekati sakaratul maut, kita akan menyesali sedekah yang pernah kita berikan, sebagaimana yang dialami oleh seorang sahabat Rasulullah bernama Sya’ban.

Diceritakan bahwa pada saat-saat sakaratul maut, Sya’ban Radiyallahu ‘anhu memanggil dengan tiga kalimat yang tidak dimengerti maknanya oleh keluarganya. Ketiga kalimat tersebut mencerminkan penyesalan Sya’ban terhadap tindakan yang telah dilakukannya selama hidup.

Penyesalan yang pertama membuatnya berteriak, “Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…”

Yakni penyesalan karena jarak rumahnya ke masjid hanya beberapa kilometer saja. Sedangkan saat sakaratul maut tersebut, ia diperlihatkan oleh Allah ganjaran pahala yang diperolehnya langkah demi langkah menuju masjid.

Maka, ia menyesali mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi agar pahala yang diperolehnya lebih banyak lagi.

Penyesalannya yang kedua membuatnya berseru,” Aduuuh kenapa tidak yang baru…”

Karena, menjelang kedatangan ajalnya itu, Allah memperlihatkan amalannya yang lain, yakni di waktu angin dingin berembus. Sya’ban memakai pakaian double, yang ia pakai di dalam adalah baju baru, sedangkan sebagai luaran adalah baju lama.

Niat Sya’ban setelah sampai masjid, baju luarannya akan dilepas sehingga ia salat dengan memakai baju baru. Akan tetapi  di tengah perjalanannya ke masjid, ia bertemu seseorang yang tampak sekarat karena kedinginan.

Sya’ban pun membantu memapah orang tersebut dan memakaikan baju luarannya yang sudah usang pada orang itu. Sehingga, orang yang hampir sekarat itu bisa tertolong.

Rupanya, amalan tersebut Allah ganjar surga yang ditampakkanNya pada Sya’ban ketika sakaratul maut. Maka, ia amat menyesali mengapa saat itu hanya memberikan pakaian lama, bukan yang baru.

Melihat betapa besarnya ganjaran kenikmatan yang ia peroleh hanya karena memberi pakaian usang, ia berpikir apalagi kalau ia memberi pakaian yang baru.

Trakhir adalah penyesalan Sya’ban mengenai sedekahnya kepada seorang pengemis, penyesalan ini membuatnya berseru saat sakaratul maut.
“Aduuuh kenapa tidak semua…”

Saat itu, ia ingin memakan roti, tiba-tiba ada seorang pengemis meminta makanan padanya akibat sudah beberapa waktu pengemis tersebut tidak mengisi perutnya sama sekali.

Sya’ban membagi rotinya sama besarnya, untuk disantap olehnya dan oleh pengemis tersebut. Begitu melihat ganjaran yang diperolehnya atas sedekahnya itu, ia menyesal, mengapa tidak memberikan semua roti tersebut pada sang pengemis. Itulah makna teriakkannya saat sakaratul maut tersebut.

Bahkan, setelah mengetahui ganjaran luar biasa yang didapatnya, seseorang masih bisa menyesali sedekah yang dikeluarkannya. Menyesal mengapa ketika hidup hanya mengeluarkan sedekah sedikit saja. Apalagi seseorang yang meninggal tanpa pernah bersedekah.

Bukankah mayit saja jika diperbolehkan hidup kembali akan memilih untuk bersedekah?

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS Al-Munafiqun: 10)

Oleh sebab itu, bersedekahlah dengan apapun yang kita miliki saat ini juga. Jangan sampai kita menyesali karena menahan-nahan harta dan tidak menginfakkannya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here