
JAKARTA – Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais-Binsyar) Ditjen Bimas Islam, Adib, menjelaskan bahwa sidang isbat memiliki kepentingan khusus karena Indonesia bukan negara agama atau sekuler.
Indonesia, kata Adib, tidak bisa menyerahkan urusan agama sepenuhnya kepada orang per orang atau golongan. Menurutnya, sidang isbat penting dilakukan karena ada banyak organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam di Indonesia yang juga memiliki metode dan standar masing-masing dalam penetapan awal Hijriah. Sidang isbat menjadi forum, wadah, sekaligus mekanisme pengambilan keputusan.
“Sidang isbat dibutuhkan sebagai forum bersama mengambil keputusan. Ini diperlukan sebagai bentuk kehadiran negara dalam memberikan acuan bagi umat Islam untuk mengawali puasa Ramadan dan berlebaran,” ujar Adib dilansir dari laman kemenag.go.id.
Dalam prosesnya, lanjut Adib, sidang isbat menjadi forum musyawarah para ulama, pakar astronomi, ahli ilmu falak dari berbagai ormas Islam, termasuk instansi terkait dalam menentukan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.
“Hasil musyawarah dalam sidang isbat ditetapkan oleh Menteri Agama agar mendapatkan kekuatan hukum. Jadi bukan pemerintah yang menentukan jatuhnya awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Pemerintah hanya menetapkan hasil musyawarah para pihak yang terlibat dalam sidang isbat,” tuturnya.
Adib menekankan bahwa sidang isbat bukan hanya dilakukan di Indonesia, tetapi juga dilakukan oleh negara-negara Arab. Perbedaannya, Indonesia menggunakan mekanisme musyawarah dengan semua peserta sidang isbat, menunjukkan nilai-nilai demokrasi dan partisipasi ormas Islam yang kuat dalam pengambilan keputusan tersebut.
“Inilah yang menjadi nilai lebih bahwa keputusan diambil bersama, nilai-nilai demokrasi sangat tampak dengan kehadiran seluruh ormas yang hadir pada saat sidang isbat,” kata Adib.
Adib menegaskan peran pemerintah sebagai fasilitator dalam proses sidang isbat, di mana hasilnya diambil bersama melalui Keputusan Menteri Agama, memberikan acuan hukum bagi masyarakat.
“Sidang isbat mengingatkan kita semua akan pentingnya menyatukan langkah dalam menjalankan ibadah dan memperkuat hubungan bersama dengan Allah, dengan tetap mengedepankan toleransi dan sikap saling menghormati atas beragam keputusan yang ada,” pungkasnya.




