Asa Baru Perdamaian di Gaza

Wilayah Gaza, Palestina yang porak poranda akibat bombardemen Israel. Sampai Minggu (17/3) tercata 31.657 warga Palestina tewas dan 70.000 an terluka sebagian anak-anak dan perempuan.

UNTUK kesekian kalinya, upaya negosiasi untuk mendamaikan kelompok Hamas dan Palestina  dalam perang di Jalur Gaza yang sudah berlangsung  sejak 7 Oktober 2023 namun selalu menemui jalan buntu, dibuka lagi.

Sampai hari ke-132, Minggu 18 Maret, tercatat 31.657 warga Palestina termasuk milisi Hamas tewas, sekitar 70.000 luka-luka, paling banyak anak-anak dan perempuan akibat bombardemen tak putus-putusnya oleh Israel ke permukiman penduduk di Jalur Gaza.

Ratusan ribu warga Gaza yang terisolasi di pusat-pusat pengungsian pun hidup serba kekurangan, bahkan terancam kelaparan karena tersendatnya aliran bantuan dari luar akibat blokade oleh tentara Israel.

Mesir yang proaktif mengupayakan mediasi dengan kedu pihak yang bersteru (Hamas dan Israel) melalui pejabatnya mengungkapkan negosiasi baru dimulai lagi di Qatar, Minggu (17/3).

Belum diproleh informasi tentang progress yang dicapai mengenai usulan baru Hamas setelah butir-butir usulan sebelumnya ditolak mentah-mentah oleh Israel.

Tiga  usulan baru Hamas, menurut pejabat Mesir terdiri dari tiga tahapan  gencatan senjata, mulai dari jeda pertempuran, pembebasan lagi 35 sandera Israel (dari seluruhnya 240 orang, sebagian sudah dilepaskan sebelumnya) ditukar dengan 350 warga Palestina yang ditahan Israel.

Tahap pertama, Israel harus menarik pasukannya dari dua jalur utama di Gaza, membiarkan warga Palestina yang berada di kam-kam pengungsi untuk kembali ke wilayah utara Gaza serta membuka akses bagi  bantuan kemanusiaan.

Lalu tahap kedua mencakaup gencatan senjata permanen di mana Hamas akan membebaskan seluruh prajurit Israel yang disandera sebagai ganti pembenasan lebih banyak lagi anggota kelompok Hamas atau warga Palestina yang mendekam di sejumlah tahanan Israel.

Lalu dalam tahap ketiga proposal disebutkan niat Hamas untuk menyerahkan jenasah sandera yang sebelumnya dikabarkan tewas sebagai ganti pencabutan blokade Gaza dan rekonstruksi wilayah itu yang porak-poranda akibat bombardemen Israel.

Sebelumnya pihak Hamas meminta pertukaran setiap satu sandera dengan 50 anggotanya yang ditahan Israel dan penarikan mundur tentara Israel dari seluruh wilayah Gaza serta percepatan pemberian akses bantuan pangan. Sejauh ini Israel menolak usulan tersebut walau bersedia mengirimkan delegasinya ke pertemuan Qatar.

Seluruh komunitas int’l tentu berharap perdamaian yang permanen bisa diwujudkan di Gaza dan lebih luas lagi terwujudnya solusi dua negara di mana negara Palestina dan Israel hidup berdampingan secara damai. (AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here