Untuk Menolong Orang Tak Cukup dengan nge-Twit

Suaranya sedikit tertahan. Seakan sulit untuk berbicara. Matanya pun terlihat berkaca-kaca. Ia diam sebentar, lalu kemudian melanjutkan pembicaraan. “Terus terang, sangat sulit bagi saya membicarakan ini,” ucapnya ketika diminta untuk menceritakan masa kecilnya saat ia menjadi pengungsi.

Ialah H.E Noor Sabah Nael Traavik, istri Duta Besar Kerajaan Norwegia untuk Indonesia, Stig Traavik. Ia dilahirkan di Afghanistan, negara yang sarat dengan konflik. Sebagaimana warga Afghanistan lainnya, saat ia berusia 6 tahun ia harus rela meninggalkan negaranya demi sebuah harapan. Bersama keluarganya, ia mengungsi, mengadu nasib di negara lain.

“Saya melintasi gunung-gunung. Jam 12 siang kami mulai berjalan, tengah malam kami baru tiba di perbatasan Pakistan,” ia memulai cerita. “Penderitaan itu bisa saya lepaskan, tapi tak bisa saya lupakan.”

Setelah berhasil melintasi Pakistan ia melanjutkan perjalanan ke Iran. Di sana ia tinggal selama 5 tahun. Ia juga sempat kembali ke Pakistan sebelum akhirnya tiba di Norwegia dengan bantuan UNHCR, badan pengungsi PBB. Di Norwegia inilah kehidupan barunya dimulai. Ia dapat menyelesaikan pendidika tingginya di bio-teknologi.

Pengalaman dan latar belakangnya sebagai pengungsi membuat ia sangat peduli dengan kaum lemah, terutama pengungsi dan anak-anak. Ia pernah bekerja untuk sejumlah lembaga kemanusiaan. Ia juga menjadi penerjemah untuk pencari suaka dan pengungsi yang diwawancari UNHCR.

Aktivitas-aktivitas kemanusiaanya, semakin tinggi setelah ia dipersunting, Stig Traavik. Terlebih suaminya juga pernah ditugaskan sebagai Resident Representative di Afghanistan dan Pakistan oleh Norwegian Refugees Council.

Ketika gelombang pengungsi di Eropa mulai terjadi, hati Noor Sabah kembali tergetar. Ia mengaku tak tahan menyaksikan penderitaan yang dialami para pengungsi. “Percaya atau tidak, saya mencoba untuk tidak menonton berita di televisi. Ketika menyaksikan bagaimana mereka terancam dan tersakiti, air mata saya meleleh,” ujarnya.

Untuk itu ia merasa harus berbuat sesuatu yang lebih nyata. Tak cukup hanya dengan menulis di media sosial. “Saya aktif menulis di media sosial, tweeting. Tapi itu tidak cukup untuk menolong orang lain. Saya harus berbuat sesuatu, dan saya harus memulainya,” tegasnya.

Tahun lalu ia menggelar konser amal untuk anak-anak yang terdampak di negara konflik seperti Afghanistan, Irak, Sudan, dan Suriah. Ia juga terlibat dalam berbagai even gala lainnya untuk menggalang dana bagi anak-anak yang membutuhkan. Tahun, ini ia kembali menginisasi konser amal bertajuk “Voice of Children”. Acara ini akan dimeriahkan sejumlah artis papan atas untuk membantu anak-anak pengungsi, juga jutaan anak yang tidak memiliki akta kelahiran di Indonesia.

“Apa yang saya lakukan ini adalah karena penderitaan yang pernah saya alami, karena latar belakang saya, dan karena saya pernah jadi pengungsi. Saat anda menjadi pengungsi, berarti anda kehilangan masa kanak-kanak anda,” ujarnya.

Menurutnya, kerja-kerja kemanusiaan yang dijalaninya selama ini adalah karena passion yang dimilikinya. Karena panggilan hati nuraninya.  “Ketika saya teringat (masa-masa ketika jadi pengungsi), jiwa dan raga saya sakit. Dan saya akan berbuat sesuatu (untuk membantu),” tegasnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here