Dunia Kehilangan Akal Cegah Israel

Setelah membombardir dari udara, mengabaikan seruan int'l, pasukan darat Israel kemungkinan akan menyerbu Rafah. Jika terjadi, malapetakan bagi sekitar 1,5 juta Palestina yang ada di sana tak terhindarkan.

ISRAEL tetap bergeming dan tutup telinga atas resolusi DK PBB dan seruan komunitas int’l untuk menghentikan perang di Gaza, bahkan PM Benjamin Netanyahu menyatakan sudah menetapkan “D-day” atau “hari “H” penyerbuan pasukan daratnya  ke Rafah yang saat ini dipadati sekitar 1,5 juta pengungsi Palestina.

“Rafah adalah benteng terakhir kelompok Hamas di Gaza. Pasukan kami sudah menetapkan tanggal serangan, “ ujarnya seperti dikutip  sejumlah kantor berita transnasional, Selasa (9/4).

Namun yang dikhawatirkan, termasuk AS yang (sering) berada di belakang  Israel adalah 1,5 juta pengungsi yang saat ini memadati kota dekat perbatasan Mesir itu setelah Gaza utara dibombardir dari darat dan udara oleh Israel sejak 8 Okt. tahun lalu.

Netanyahu tidak secara tegas menyebutkan waktu tepatnya invasi darat akan dilakukan, hanya menandaskan, kemenangan Israel atas Hamas hanya bisa dicapai dengan masuk (dengan serbuan pasukan darat) ke Rafah.

“Itu akan terjadi. Sudah ditetapkan tanggalnya,” kata, dalam video yang dikutip kantor berita AFP. Hal ini disampaikannya saat perundingan terkait gencatan senjata di Gaza dan kesepakatan pembebasan sandera yang dimediasi Mesir di Kairo baru-baru ini.

Netanyahu sendiri sedang dalam tekanan politik di dalam negerinya akibat kemarahan kelompok sayap kanan atas keikutsertaan Israel dalam perundingan gencatan senjata itu dan penarikan pasukan dari Gaza selatan, Minggu lalu (7/4).

Belakangan baru ketahuan, penarikan pasukan Israel (IDF) dari Gaza selatan dilakukan untuk persiapan serangan darat ke Rafah yang dicurigai pihak Israel menjadi basis terakhir persembunyian milisi Hamas yang berbaur dengan pengungsi.

Israel dalam perundingan tersebut mensyaratkan pengembalian sekitar 200 sandera yang masih di tangan Hamas setelah penyerbuan faksi militer Palestina tersebut ke wilayah Israel selatan 7 Okt. yang menewaskan sekitar 1.200 warganya. Israal membalas serangan itu secara lebh brutal, selang sehari sesudahnya, sejak 8 Okt. sampai hari ini.

Sementara Presiden AS Joe Biden dalam wawancara yang dirilis,   Selasa (9/4)  melontarkan kritik dan menganggap kekbijakan PM Benjamin Netanyahu terkait perang di Gaza keliru.

“Saya pikir apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan.Saya tidak setuju atas pendekatan yang dilakukannya, “ ujar Biden seperti  dikutip Reuters, Rabu (10/4)). Biden menganggap hal itu berlebihan.

Presiden Biden dalam pembicaraan telepon dengan Netanyahu, mengancam  akan memberikan syarat terhadap serangan Israel demi melindungi pekerja bantuan dan warga sipil.

Selain menuai kecaman int’l, rencana serangan Israel ke Rafah, membuka pandangan baru (yang negatif-red) terhadap Israel, sementara di dalam negeri AS, Biden juga menghadapi protes selama berbulan-bulan, dikritik oleh aktivis anti-perang dan warga muslim dan Arab-Amerika di seluruh negeri yang menuntut gencatan senjata permanen di Gaza dan pembatasan bantuan militer AS untuk Israel.

Pembelian 40.000 tenda untuk menampung sedikitnya 500.000 orang yang dilakukan pemerintah Israel, diduga kuat juga berkaitan dengan rencana serangan darat pasukan IDF ke Rafah. Tenda-tenda tersebut diduga disiapkan untuk menampung pengungsi Palestina, sehingga pasukannya leluasa memburu milisi Hamas.

Perang Gaza pecah setelah Hamas melancarkan serangan mendadak  7 Oktober. Menurut data Israel, serbuan Hamas itu mengakibatkan kematian 1.170 orang, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil.

Sebaliknya bombardemen masif yang dilakukan Israel ke wilayah Gaza sejak 8 Okt. 2023 sejauh ini telah menewaskan sekitar33.360 jiwa dan melukai lebih 70.000 orang, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak Palestina.

Dunia agaknya sudah kehabisan akal untuk menghentikan sepak-terjang Israel di Gaza. (AFP/Reuters/ns).

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here