SOLOK – Hidup Meltriadi (43), warga asli Solok yang sudah lama bekerja sebagai tukang pencari kayu, kini berubah sejak ia menghadiri pertemuan sosialisasi dari Dompet Dhuafa di masjid dekat rumahnya.
Pertemuan tersebut berisi ajakan untuk menjalankan program peternakan Dompet Dhuafa. Awalnya Meltriadi tak yakin. Sebab, ia sering kali menerima program bantuan yang bersifat sementara dan tak berjalan dengan semestinya.
“Biasanya kalau ada bantuan, kadang dari pemerintah, ya programnya akan jalan jika bantuannya datang. Kalau nggak (datang), ya nggak akan jalan programnya. Awalnya saya nggak aktif mengikuti sosialisasi tersebut. Sampai saya melihat Dompet Dhuafa berbeda dengan lembaga lain. Ini program yang akan berlanjut, bukan hanya (menerima) bantuan saja,” tutur Meltriadi.
Sekali dalam dua minggu, Meltriadi akhirnya menghadiri sosialisasi terkait program DD Farm atau peternakan Dompet Dhuafa ini. Tak berhenti di sana, ia dan dua orang temannya mendapat amanah untuk mengurus bibit dan kandang hewan kurban.
Sejak bergabung dengan DD Farm Solok di tahun 2019, ia mengurus hewan kurban berupa domba. Meski begitu, perjalanan Meltriadi tak selalu mulus, ia harus berhadapan dengan jumlah peminat domba yang sedikit. Akhirnya ia dan pengurus kandang lainnya mulai mengembangbiakkan sapi dengan jumlah awal 40 ekor.
Dia pun bercerita apa yang membuatnya bertahan hingga kini, yakni tak ada alasan selain rasa syukur atas pekerjaan barunya dan memanfaatkan dana zakat donatur sebiak mungkin.
“Dampak keberadaan Dompet Dhuafa sangat terasa. Dulu pengurus kandang hanya tiga orang, sekarang sudah 10 orang. Warga jadi punya lapangan pekerjaan. Saya merasa harus memanfaatkan dengan baik, karena ini zakat. Kalau saya menyalahgunakan, takutnya dosa. Saya berharap, semoga orang yang belum pernah dapat daging kurban, besok (Iduladha 1444 H) harus dapat. Harus merasakan hasil ternak binaan Dompet Dhuafa,” pungkas Meltriadi.





