
SEBANYAK 226 orang dilaporkan tewas dan 1.418 terluka akibat bentrok antara pasukan pemerintah dan milisi Pasukan Pendukung Cepat (RSF) di kota El-Fasher, Sudan Utara sejak Mei lalu.
AFP melaporkan (14/6), El-Fasher telah menjadi titik fokus perang selama hampir setahun antara pasukan reguler Sudan melawan RSF yang dipimpin oleh mantan wakil panglimanya, Mohamed Hamdan Daglo.
Jumlah korban tewas secara keseluruhan diperkirakan jauh lebih tinggi karena para korban tidak dapat memperoleh perawatan di tengah serangan udara, hujan tembakan dan pertempuran darat yang sedang berlangsung.
“Situasi di El-Fasher kacau,” kata Michel-Olivier Lacharite, kepala program darurat Pengobatan Tanpa Batas (MSF) dan situasi semakin rumit akibat ditutupnya, RS Southern yang semula merupakan fasilitas persalinan, sehingga memaksa warga berobat ke RS di Arab  Saudi.
Pertempuran sengit untuk memperbutkan kota El-Fasher meletus pada 10 Mei, sebelumnya terjadi pada April 2023, memicu pengepungan oleh RSF yang telah menjebak ratusan ribu warga sipil sementara DK PBB, Kamis lalu (23/6) Â mengeluarkan resolusi menuntut diakhirinya aksi tersebut.
Berdasarkan laporan PBB, konflik yang pecah sejak April 2023 antara panglima militer Sudan Abdel Fattah al-Burhan dan RSF Daglo, telah mengakibatkan puluhan ribu orang tewas dan lebih dari sembilan juta orang mengungsi.
Resolusi terbaru DK PBB menyerukan gencatan senjata segera, akses kemanusiaan tanpa hambatan dan meminta kedua belah pihak mematuhi embargo senjata yang dikenakan terhadap Sudan. Gencatan senjata tahun berakhir dengan kegagalan.
Sementara itu, Komite Aktivis Pro-demokrasi Sudan, Kamis (6/6) mengatakan, serangan dari satuan paramiliter (RSF) di sebuah desa di Sudan menewaskan sedikitnya 100 orang.
Sedangkan Komite Perlawanan Madani menyebutkan, RSF yang bertempur melawan tentara reguler sejak April 2023, menyerang desa Wad al-Noura, di negara bagian al-Jazira dalam dua gelombang dengan artileri berat, Rabu.
Sekitar 800 ribu penduduk yang ketakutan terhadap kemungkinan serangan RSF ke desa mereka memilih mengungsi untuk mencari tempat aman.
Â
Sampai 150.000 korban tewas
Utusan AS untuk Sudan Tm Periello menyebutkan, dalam kurun waktu kurang dari setahun, perang telah menewaskan hingga 15.000 orang di wilayah Darfur Barat, bahkan jumlah pasti korban masih belum jelas, diperkirakan mencapai 150.000 orang.
Sudan sendiri saat ini masih di bawah Pemerintah Federal Junta Militer diketuai oleh Abdel Fatah al-Burhan dan wakilnya Mohammed Hamdan Dagalo yang juga panglima RSF.
AB Sudan yang berkekuatan 149.000 personil, sekitar 40.000 diantaranya adalah milisi RS yang sedang dalam proses integrasi penuh, namun terjadi perselisihan mengenai tenggat waktu sehingga beujung bentrokan.
RSF dibentuk pasca konflik Darfur yang terjadi pada 2013, sementara Sudan saat ini sedang dalam era transisi dari pemerintah junta militer ke pemerintahan sipil yang demokratis sejak kudeta militer Oktber 2021.
Sudan berpenduduk 47,9 juta yang terletak di timur laut Afrika mayoritas memeluk agama Islam, merdeka atas dukungan Inggeris dan Mesir pada 1956, namun Sudan Selatan yang mayoritas Kristiani memisahkan diri pada 2011 dengan ibukotanya, Juba.
Konflik antara elit yang berebut kekuasaan sudah didamaikan, sementera yang menjadi korban adalah para prajurit dan rakyat yang menjadi tumbalnya. (AP/AFP/Reuters/ns)




