JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa satu juta anak di Republik Demokratik Kongo (DRC) akan mengalami kekurangan gizi akut jika tidak segera diambil tindakan menyusul konflik bersenjata dan krisis pengungsian di negara tersebut.
“Jika tindakan segera tidak diambil untuk memenuhi kebutuhan dasar di Kongo, lebih dari satu juta anak akan menderita kekurangan gizi akut,” kata pejabat senior darurat WHO Adelheid Marschang seperti dikutip dari Anadolu, Sabtu (13/7/2024).
Konflik dan krisis pengungsi menjadi faktor utama kerawanan pangan di Kongo. Marschang mengutip laporan terbaru yang menunjukkan 40,8 juta orang menghadapi kekurangan pangan yang serius di negara Afrika tersebut, dengan 15,7 juta orang mengalami kerawanan pangan parah, serta risiko malnutrisi dan penyakit menular yang lebih tinggi.
Marschang menjelaskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, Kongo telah mengalami peningkatan konflik dan kekerasan, yang menyebabkan pengungsian massal, penyebaran penyakit, kekerasan berbasis gender, serta trauma mental yang parah, khususnya di bagian timur negara itu.
DRC juga menjadi negara dengan jumlah orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan tertinggi di dunia, yaitu sebanyak 25,4 juta orang terdampak.
“Meskipun demikian, krisis ini masih merupakan salah satu krisis yang paling kekurangan dana,” ucapnya.
Marschang juga menyoroti jumlah total pengungsi yang mencapai sekitar 7,4 juta orang dan mengatakan bahwa perpindahan massal ini tidak hanya membebani sistem air dan sanitasi tetapi juga mengakibatkan wabah kolera, campak, meningitis, dan cacar monyet.
Kondisi ini semakin diperburuk oleh banjir besar dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di negara tersebut.
Pada 2024, lebih dari 20.000 kasus kolera dan hampir 60.000 kasus campak telah dilaporkan, dan jumlah ini mungkin lebih tinggi karena terbatasnya pengawasan penyakit dan pelaporan data.
Sementara itu, WHO telah menjangkau 460.000 orang dengan layanan kesehatan darurat di daerah yang terkena dampak konflik sepanjang tahun ini.
Marschang menekankan bahwa akses kemanusiaan masih sangat dibatasi oleh kehadiran militer.





