
SOSOK-sosok seperti petugas pemadam kebakaran (Damkar) Kota Depok, Jawa Barat Sandi Butar Butar diperlukan untuk melawan oknum-oknum birokrasi bobrok dan korup yang nyaman berlindung di balik relasi kuasa.
Sandi dalam tayangan video yang diunggahnya meminta maaf pada warga karena gagal memadamkan api yang melalap gereja GST Agape Ministry, Jl. Raya Bogor, Cisalak, Sukmajaya, Depok (23/7) malam karena mobil-mobil dramkar berukuran kecil rusak, sementara yang besar tidak bisa masuk gang di lokasi kebakaran. Selang air bocor, dan nozzle (semprotan) rusak.
“Gereja akhirnya ludes, padahal seharusnya bisa kami selamatkan. Pakai hati anda Pak, “ kata Sandi sambil terisak-isak menyampaikan pesan pada atasannya sambil menahan emosi.
Sementara di unggahan video lain yang disebut “room tour” di unit damkar, Sandi juga memohon maaf pada warga Depok, tidak bisa memenuhi permintaan mereka untuk menangani pohon tumbang karena gergaji mesin rusak dan juga menunjukkan mobil blanwir yang rem tangannya tidak berfungsi.
Sandi juga memosting di youtube terkait alat kerja yang rusak seperti selang air dan penyambung serta penyempot (noozle), kopling, rem tangan kendaraan, bahkan HT sehingga mereka menggunakan HP pribadi untuk berkomunikasi.
“Sabar, sabar saja, “ kata Sandi menirukan jawaban atasannya setiap kali ditanyakan masalah itu.
Sebelumnya pada 2021 Sandi juga pernah memasang spanduk terkait mark-up pembelian alat-alat pemadam kebakaran dan anggaran belanja peralatan Damkar di unitnya, bahkan pembayaran iuran bulanan BPJS yang dipotong dari gaji petugas tidak disetorkan sehingga puterinya ditolak perawatannya oleh RS.
Sandi “dibina” atasan
Sandi dipanggil menghadap Kepala UPT Damkar Cimanggis, Jawa Barat, Dede Kurnia (23/7) terkait postingan videonya tentang sarana dan prasarana Damkar yang tidak berfungsi.
Namun dalam pertemuan semula yang disebut sebagai “pembinaan”, Dede mengaku hanya mendengarkan keluhan Sandi dan berjanji akan meneruskan pada atasannya.
Sandi sebelumnya sempat pula protes karena pertemuan itu disebut sebagai “pembinaan”, padahal ia merasa tidak berbuat kesalahan, sebaliknya, melaporkan kebenaran dan juga menolak pemanggilan beberapa rekannya.
“Saya tanggung jawab sendiri, rekan saya jangan dibawa-bawa, “ serunya sambil mencoret daftar nama temannya yang tertera dalam surat panggilan.
Sementara Wakil Walikota Depok Imam Budi Hartono bereaksi keras atas tayangan video Sandi yang viral itu dan mengatakan, secara etika, persoalan internal lembaga hendaknya tidak buru-buru dibawa keluar, tetapi diselesaikan di dalam dulu.
“Dia kan sudah digaji negara, oleh Pemkot Depok. Sebaiknya sesuatu yang kurang di dalam, kita perbaiki bersama. Jangan dibawa keluar, “ ujarnya.
Terkait kerusakan gergaji mesin, Imam mengatakan, hal itu bukan kendala karena Damkar bisa berkordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK).
Yang diucapkan Imam, agaknya mewakili tipikal oknum pejabat yang acap “menggampangkan” persoalan untuk berkilah, padahal di lapangan, tentu tidak mudah untuk mengalihkan tanggug jawab ke unit kerja lain, apalagi dalam kasus kebakaran, perlu waktu cepat mengatasinya.
Melaporkan atasan yang culas, sewenang-wenang atau korupsi, mungkinkah pak Imam?Biasanya persoalan terkait penyimpangan, kelalaian atau penyelahgunaan wewenang leh atasan bakal dipendam jika tidak sampai viral di media, dan umumnya tidak ada bawahan yang berani melaporkan
Dalam sejumlah kasus, tak jarang bawahan yang memprotes atau mengungkapkan penyimpangan menuai risiko, dipindahkan, demosi bahkan sampai dipecat karena dianggap membocorkan rahasia intansi atau dinilai tidak loyal pada atasan.
Begitu dukungan publik terhadap Sandi mengalir, Imam yang mencalonkan diri untuk pemilihan walikota Depok pun “banting stir”, mendatangi tempat kerja Sandi di UPT Damkar Depok, Minggu (28/7).
Imam yang semula bereaksi negatif terhadap tindakan Sandi yang blak-blakkan mengungkap kebobrokan aparatnya, sontak berubah jadi lembut dan mengapresiasinya.
“Alhamdulillah bisa bertemu Sandi yang jadi trending topic dunia maya sepekan ini, “ tutur Imam seraya berterima kasih atas masukan Sandi dan berjanji akan segaea mengganti atau memperbaiki peralatan Damkar yang diperlukan.
Kasus Sandi semestinya ditarik ke perspektif lebih luas lagi untuk mengungkap berbagai kelalaian, penyimpangan , korupsi dan kesewenang-wenangan, tak saja di jajaran Damkar di seluruh Indonesia, tetapi mungkin juga di banyak instansi dan lembaga lain.
Satu demi satu kebobrokan di lembaga-lembaga pemerintah baru terungkap setelah diviralkan dulu di media, padahal, setiap temuan di unit terkecil pun, selayaknya menjadi pintu masuk untuk pembenahan menyeluruh.
Reformasi birokrasi agaknya menjadi conditio sine qua non yang harus dilakukan pemerintah baru di bawah Presiden Prabowo Subianto nanti guna membenahi segenap jajaran birokrasi yang sarat penyimpangan dan anomali.
Semoga sosok-sosok heroik yang bernyali menyuarakan kebenaran seperti Sandi bermunculan di negeri ini!




