
KINSHASA – Republik Demokratik (RD) Kongo kini berada dalam kondisi siaga tinggi menyusul kemunculan penyakit misterius yang telah menyebabkan lebih dari 70 kematian. Informasi ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan RD Kongo, Roger Kamba, pada Kamis (5/12/2024).
Laporan Awal Penyakit
Penyakit yang belum diketahui penyebabnya ini pertama kali dilaporkan di daerah Panzi, Provinsi Kwango, di wilayah barat daya RD Kongo. Sejak Oktober, tercatat 382 orang telah terinfeksi, dengan gejala menyerupai flu.
Sekitar 40 persen dari kasus tersebut melibatkan anak-anak, yang banyak di antaranya mengalami kekurangan gizi, sehingga memperburuk dampak penyakit ini.
Hingga kini, jumlah korban meninggal mencapai 71 orang, terdiri dari 27 kematian di fasilitas kesehatan dan 44 lainnya terjadi di komunitas. Namun, sebanyak 300 orang dilaporkan telah pulih.
“Kami dalam kondisi siaga penuh. Kami menganggap ini adalah tingkat epidemi yang harus kami pantau secara maksimal,” tutur Kamba.
Upaya Penyelidikan dan Dugaan Awal
Pemerintah RD Kongo telah mengirim tim intervensi khusus ke lokasi untuk menyelidiki sifat penyakit ini. Menurut Kamba, mereka masih menunggu hasil tes laboratorium untuk menentukan penyebab dan pengobatan yang tepat.
Dugaan awal mengarah pada masalah pernapasan, mengingat penyakit ini muncul bersamaan dengan musim flu yang biasanya berlangsung dari Oktober hingga Maret, dengan puncaknya pada Desember.
Namun, Kamba menegaskan bahwa angka kematian yang tercatat, yaitu sekitar 7,8 persen, tidak sesuai dengan profil Covid-19, meskipun hipotesis ini tetap dipertimbangkan dengan hati-hati sambil menunggu hasil analisis lebih lanjut.
Tantangan di Lapangan
Penelitian dan penanganan epidemi ini menghadapi kendala besar, termasuk minimnya fasilitas medis dan kondisi logistik yang buruk di lokasi terdampak. Hingga kini, belum diketahui apakah penyakit ini disebabkan oleh virus atau bakteri.
Direktur Jenderal Institut Kesehatan Masyarakat Nasional RD Kongo, Dieudonne Mwamba, mengonfirmasi bahwa metode penularan penyakit ini juga masih menjadi misteri.
Sementara itu, Jean Kaseya, Direktur CDC Afrika, menyampaikan bahwa hasil tes untuk mengidentifikasi karakteristik penyakit ini diharapkan akan tersedia pada Jumat (6/12/2024) atau Sabtu (7/12/2024).




