Taiwan sedikit lega, AS tetap mendukung

Kapal induk ke-3 Tiongkok "Shandong" yang menjadi ancaman bagi Taiwan. Tiongkok terus mengumandangkan tekadnya merebut kembali Taiwan yang diakui sebagai bagian wilayahnya.

TAIWAN terus dihantui ancaman serangan dari sesama negara leluhurnya, China daratan yang dipisahkan oleh selat dengan lebar terjauh 180 km.

Boleh dibilang, Taiwan hanya berjarak “sepelemparan batu”  dari China daratan yang memiliki kekuatan militer raksasa termasuk tiga kapal induk yakni Fujian, Shandong dan Liaoning yang sewaktu-waktu bisa dikerahkan untuk merebutnya.

Tidak sekedar gertakan yang dilontarkan para pemimpin China daratan di berbagai kesempatan untuk merebut kembali Taiwan yang dianggap miliknya, simulasi-simulasi operasi militer gabungan ketiga matra juga terus dilakukan.

Latgab bersandi “Joint Swords 2024B” dengan mengerahkan 25 pesawat tempur dan tujuh kapal perang termasuk kapal induk dilakukan oleh China daratan pada 14 Oktober lalu  sebagai respons.

Dengan skenario untuk memblokade Taiwan scara total, menyerang target-target maritim dan daratan, dilanjutkan dengan penyerbuan, latgab digelar slang beberapa hari setelah lawatan Menlu AS Antony Blinken ke Taiwan.

Blinken sebelumnya megngatkan rezim penguasa China daratan agar tidak melakukan aksi berlebihan merespons pernyataan Presiden Taiwan Lai Cheng Te yaang terang-terangan akan terus memperjuangkan kemerdekaan negaranya.

Lai dalam pidatonya menegaskan, Taiwan menolak aneksasi dan tidak akan tunduk dari China daratan.

Jadi, komitmen AS untuk terus mendukung Taiwan menghadapi China daratan seperti yang disampaikan oleh Ingrid Larson, Direktur Eksekutif Kantor Washington dari American Institute in Taiwan, cukup melegakan bagi Taiwan.

Bukti komitmen AS ditunjukkan oleh bantuan militer senilai 385 juta dollar AS (sekitar Rp 6,096 triliun) yang disepakati baru baru ini. Dukungan AS bagi Taiwan juga diperkirakan tidak akan berubah di bawah Presiden AS Donald trump mulai Januari 2025.

 Perimbangan militer

Tentara China (PLA) dengan anggaran pertahanan 1,67 triliun yuan  (Rp3.650 triliun atau lebih besar dari APBN Indonesia) memiliki tiga juta personil, AU-nya mengoperasikan 3.170 pesawat berbagai jenis, AL diperkuat 714 kapal perang termasuk tiga kapal induk, 76 kapal selam,  AD memiliki 13.500 tank.

Selain membangun kekuatan nuklirnya, China terus mengembangkan persenjataan konvensional, misalnya pesawat tempur siluman generasi ke-5 “elang hitam”  Chengdu J-20 dan rudal penghancur kapal induk Dongfeng DF-21.

Sebaliknya, Taiwan dengan anggaran pertahanan 18,8 miliar dollar AS (sekitar Rp292 triliun) walau jauh lebih kecil, dengan personil 300.000 orang, 300 pesawat tempur, 87 kapal perang dan sekitar 1.855 tank tidak bisa dianggap enteng, karena selain terlatih juga canggih.

AU Taiwan ditulangpunggungi lebih 100 pesawat tempur “Elang Tempur F-16 C/D, pesawat Mirage 2000-5 buatan Perancis dan Chengko F-CK1 buatan lokal yang keandalannya setara  F-16.

Namun jika China daratan menyerbu Taiwan, tentu negeri pulau itu tidak sendiri, karena paling tidak, AS bersama 31 negara anggota NATO pasti akan cawe-cawe membeanya.

Perang , yang jelas cuma menciptakan kerusakan dan kematian serta kesengsaraan, ujung-ujungnya setelah ada pihak yang kalah dan menang, berunding juga. Jadi, kenapa nggak dari ekarang, dicari solusi damai saja?                                                               (berbagai sumber kantor berita transnasional/GFP/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here