
PENELITI Massachusetts Institute of Technology, William Parker mengungkapkan, ribuan satelit di orbit rendah bumi (Low Earth Orbit – LEO) akan mengalami pergeseran posisi akibat dua badai geomagnetik disebabkan serangkaian letusan matahari.
“Badai tersebut memengaruhi orbit satelit, mengakibatkan migrasi massal yang belum pernah terjadi sebelumnya, “ kata Parker, “ menurut laporan situs fiksi dan ilmiah Gizmodo yang diramgkum Kompas com (15/12) .
Menurut dia, fenomena tersebut merupakan puncak aktivitas matahari dalam siklus yang berlangsung setiap 11 tahun di mana periode tersebut ditandai oleh letusan matahari yang hebat, dan semburan partikel bermuatan yang diarahkan ke Bumi.
Badai geomagnetik ekstrem yang disebut G5 yang pertama kali dalam lebih dari 20 tahun terakhir terjadi Mei lalu. Badai tersebut
terjadi di orbit rendah bumi pada ketinggian antara 160 hingga 2.000 kilometer di atas permukaan bumi di mana pada orbit tersebut ribuan satelit beroperasi.
Badai tersebut membuat atmosfer di orbit rendah bumi menjadi lebih padat, sehingga satelit-satelit mengalami “drag” atau tarikan yang lebih besar sehingga posisi satelit-satelit tersebut bergeser.
Peristiwa badai ini menyebabkan efek merusak pada jaringan listrik bumi dan juga menampilkan aurora yang terlihat di sebagian belahan dunia.
Menurut Parker, pergeseran satelit yang paling terlihat adalah milik perusahaan eksplorasi ruang angkasa milik Elon Musk, SpaceX, yaitu Starlink.
Ada lebih dari 6.700 satelit Starlink yang terdampak. Di orbit rendah bumi, banyak satelit Starlink milik SpaceX beroperasi, sehingga mereka lebih rentan terhadap efek badai
Setelah kejadian tersebut, SpaceX melaporkan bahwa posisi satelit mereka bisa meleset hingga 20 kilometer, sementara perubahan kecil pada orbit satelit meningkatkan risiko terjadinya tabrakan dengan satelit lain.
Hampir 5.000 satelit melakukan manuver otomatis untuk kembali ke posisi semula. Ini merupakan jumlah terbesar satelit yang bergerak massal dalam sejarah.
“Setengah dari seluruh satelit aktif bermanuver sekaligus,” kata Parker, sebagaimana KompasTekno rangkum dari Gizmodo, Minggu (15/12/2024).
“(Peristiwa) Ini menjadikannya migrasi satelit massal terbesar dalam sejarah, ” katanya seraya menambahkan, manuver tersebut membuat semakin sulit memprediksi posisi satelit satu sama lain, sehingga meningkatkan risiko tabrakan.
Para ilmuwan masih berusaha memahami perilaku matahari untuk memprediksi terjadinya badai geomagnetik agar bisa membantu operator satelit mempersiapkan perangkat mereka di luar angkasa. (gizmodo/kompas.com/ns)




