Gencatan Senjata Gagal, Israel Masih Bertahan di Lebanon Selatan

BEIRUT – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa perjanjian gencatan senjata antara Lebanon dan Israel, yang disepakati pada 27 November 2024, belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai ketentuan.

Pasukan militer Israel masih berada di wilayah Lebanon, meskipun tenggat waktu 60 hari untuk menarik pasukan dari Lebanon selatan telah berakhir pada Minggu (26/1/2025).

Setidaknya, tiga warga Lebanon tewas dan 44 lainnya terluka akibat tembakan pasukan Israel ketika mereka berusaha kembali ke desa asal mereka di wilayah selatan Lebanon.

“Jangka waktu yang diatur dalam Kesepakatan November tidak dipenuhi,” demikian pernyataan bersama Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon Jeanine Hennis-Plasschaert dan Kepala Misi UNIFIL sekaligus Komandan Pasukan, Letnan Jenderal Aroldo Lazaro.

“Seperti yang terlihat secara tragis pagi ini, kondisi yang memungkinkan kembalinya warga ke desa mereka di sepanjang Garis Biru belum terpenuhi,” tambah pernyataan itu.

PBB memperingatkan warga Lebanon untuk tetap berhati-hati dalam proses pemulihan dan rekonstruksi, karena pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006) terus terjadi setiap hari.

PBB menegaskan, kepatuhan penuh Israel dan Lebanon terhadap kewajiban mereka di bawah Resolusi 1701 adalah satu-satunya cara mengakhiri konflik dan menciptakan keamanan serta stabilitas di wilayah tersebut.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa terus berkomunikasi dengan semua pihak untuk mencapai tujuan ini dan tetap siap mendukung setiap tindakan yang konsisten dengan Resolusi 1701 dan upaya Mekanisme Implementasi untuk mencapai tujuan Pemahaman November,” tambah pernyataan tersebut.

Gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Lebanon, berlaku sejak 27 November, berhasil menghentikan konflik yang dipicu serangan antara Israel dan Hizbullah sejak 8 Oktober 2023 dan memuncak menjadi perang besar pada 23 September 2024.

Berdasarkan kesepakatan, Israel diwajibkan menarik pasukannya ke selatan Garis Biru, yang menjadi perbatasan de facto, sementara tentara Lebanon harus dikerahkan ke wilayah selatan dalam waktu 60 hari.

Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan Israel sejak 8 Oktober 2023 telah menewaskan 4.068 orang, termasuk perempuan, anak-anak, dan tenaga kesehatan, serta melukai 16.670 orang lainnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here