Ribuan Siswa Miskin di Ciamis Belum Punya Kartu Indonesia Pintar

Ilustrasi/ Tribunnews

CIAMIS – Belum memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP), sebanyak 6.465 anak sekolah di Ciamis terancam rawan drop out.

Hasil tersebut didapatkan dari pendataan langsung yang dialkukan oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang dilakukan hingga pertengahan bulan Juli 2016.

“Hasil pendataan terakhir, medio Juli 2016, ada 6.465 siswa belum memiliki KIP. Hasil tersebut khusus warga keluarga miskin yang masuk program PKH. Tanpa memiliki KIP, siswa tersebut sudah dapat dipastikan akan rawan drop out,” kata Koordinator PKH Ciamis, Indra maulana, Rabu (20/72016).

Seperti dilansir Pikiran Rakyat, ia memperkirakan, jumlah siswa yang belum menerima KIP lebih banyak, karena tidak semua keluarga miskin dan sangat miskin masuk dalam PKH. Hasil pendataan peserta PKH yang saat ini masih berstatus pelajar mencapai 18.245 orang. Dari jumlah tersebut yang sudah memegang atau menerima KIP sebanyak 11.789 siswa.

Dari 26 kecamatan, sebagian siswa tidak memiliki KIP, paling banyak ditemukan di Kecamatan banjarsari mencapai 485 siswa, Kecamatan Ciamis sebanyak 470 siswa, Panumbangan 460 siswa, Cikoneng mencapai 307 siswa. Sedangkan sisanya tersebar di berbagai kecamatan.

Banyaknya angka yang belum menerima KIP, pihaknya menelusuri, apakah KIP tersebut masih dalam proses distribusi atau hal lain. “Apabila masih dalam perjalanan atau belum sampai, maka tinggal menunggu waktu. Persoalannya, apabila memang tidak ada KIPnya,” jelasnya.

Selain itu hasil pendataan akan diserahkan kepada instansi terkait, yakni Dinas Pendidikan serta kementerian Agama Ciamis. Data tersebut memuat nama berikut alamat.

Sementara itu Bupati Ciamis Iing Syam Arifin mengatakan, untuk membantu warga miskin atau tidak mampu, Pemerintah Kabupaten Ciamis mengeluarkan program Kartu Calakan. Keberadaan kartu tersebut, juga dimaksudkan untuk menjaring siswa yang tidak mendapat KIP.

“Kami punya program Kartu Calakan, bantuan khusus tersebut untuk mengantisipasi atau meanggulangi siswa yang RDO maupun Drop Out. Kami berharap seluruh siswa dapat menuntaskan sekolah sesuai wajib belajar 12 tahun,” tuturnya.

Advertisement