MEKKAH (KBK)—Tragedi menjelang melontar jumrah di Mina memakan korban lebih dari 900 jamaah. Sementara dari Indonesia, jumlah jamaah haji yang menjadi korban mencapai 41 orang.
Sejumlah pihak menyayangkan lambannya proses identifikasi jenazah sehingga membuat banyak keluarga di tanah air khawatir. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Abdul Djamil menjelaskan mengapa proses identifikasi jenazah korban memerlukan waktu yang lama.
Sedikitnya empat hal yang menjadi penyebab, yaitu:
Pertama, pada dua hari pertama setelah kejadian, pemerintah Arab Saudi menutup akses untuk mendapatkan data-data awal korban dikarenakan mereka sedang proses evakuasi dan identifikasi awal. “Kami baru mendapatkan akses ke tempat pemulasaraan jenazah pada tanggal 25 September 2015 pukul 23.00 WAS,” ujarnya.
Kedua, proses identifikasi dan pencocokan data yang relatif tidak mudah dikarenakan foto kondisi jenazah yang berbeda dengan foto pada Siskohat dan E-Hajj. “Tim melakukan inventarisasi foto-foto yang diduga memiliki kemiripan dengan wajah-wajah jenazah,” tambahnya.
Ketiga, banyak foto tanpa disertai identitas yang meyakinkan bahwa yang bersangkutan adalah jamaah haji Indonesia. Padahal diperlukan proses pengecekan data dan file pendukung yang memperkuat dugaan bahwa jamaah tersebut adalah jamaah haji Indonesia, baik berupa gelang jamaah, sobekan DAPIH, identitas maktab, kartu bis, tas paspor, aksesoris syal, kain ihram, kain kerudung, pakaian, dan lain sebagainya.
“Terakhir, perlunya prinsip kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan penyampaian informasi kepada keluarga jamaah haji,” tukasnya.




