
JAKARTA, KBKNEWS.id – Kualitas udara Jakarta kembali memburuk dan menempati peringkat kedua kota dengan udara terburuk di dunia pada Rabu (17/6/2026) pagi berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir.
Pada pukul 05.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta tercatat sebesar 175, masuk kategori tidak sehat.
Konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 88,5 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut membuat masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika harus beraktivitas di luar.
Dalam daftar IQAir, Lahore di Pakistan menempati posisi pertama dengan AQI 382. Jakarta berada di urutan kedua, disusul Kinshasa di Republik Demokratik Kongo dengan AQI 163 dan Santiago, Cile, dengan AQI 153.
Untuk mengatasi persoalan polusi udara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjalankan sejumlah strategi, termasuk memperluas layanan Transjabodetabek guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga mengajak masyarakat memanfaatkan transportasi umum yang telah terintegrasi.
Menurut Pramono, sektor transportasi menyumbang sekitar 50 persen emisi gas buang di Jakarta. Karena itu, Pemprov menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030. “Kalau itu bisa dilakukan, secara signifikan akan mengurangi kontribusi terhadap emisi itu,” kata Pramono.
Selain sektor transportasi, Pemprov DKI juga mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah (ITF) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
Proyek tersebut ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini sebagai bagian dari upaya menekan emisi dan memperbaiki kualitas udara Jakarta.




