RI Mau Beli Kapal Induk, Perlu kah?

Niat TNi-AL memperkuat armadanya dengan kapal induk seken milik Italia ITS Giuseppe Garibaldi, namun dipertanykan anyak pihak terkait kondisi anggaran negara, prioritas danaa mahalnya harga serta pengoperasinnya (foto: dok. ist)

SAAT ini TNI-AL kabarnya sedang menimbang-nimbang rencana pembelian kapal induk seken pengangkut pesawat (aircraft carrier) IST Giuseppe Garibaldi (GG) dari Italia.

Sebagai negara maritim dengan 13.000 lebih pulau, kehadiran kapal induk tentu sangat berguna sebagai pusat komando gugus tugas tempur operasi militer perang (OMP) mau pun Operasi Militer Selain Perang (OMSP) misalnya mengevakuasi penduduk dari wilayah bencana.

Kapal induk juga jadi kekuatan penggentar (deterrent) agar lawan tidak coba coba menggaggu kedaulatan RI, serta menunjukkan supremasi di laut, sesuai semboyan TNI-AL Yalesveva Jayamahe.

Namun tentu banyak yang harus dihitung, mulai dari harga dan biaya perawatannya yang mahal, juga biaya operasi termasuk jumlah awak yang mengoperasikan, apalagi dengan gencarnya program efisiensi yang sedang dilancarkan pemerintah kini.

Entah benar atau tidak, rumor ada yang menyebutkan harga kapal induk bekas itu sampai sekitar satu miliar Euro lebih (sekitar Rp 20 triliun), yang tentunya sangat menguras anggaran militer RI pada 2025 yang totalnya Rp245,2 triliun.

Harga sebesar itu, belum termasuk perombakan besar-besaran termasuk dek agar bisa menampung dron, pembaruan sistem komunikasi dan elektronika serta  juga persenjataan kapal.

Pakar pertahanan auzan Malufti mengingatkan pemerintah, terutama TNI AL, agar tak membeli kapal GG dengan dasar hanya agar bisa dibanggakan alias mengedepankan gengsi atau pride.

Meneurut dia, akuisisi kapal induk milik Italia itu seharusnya benar-benar didasari kebutuhan nyata dan bukan semata menuruti gengsi atau gagah-gagahan saja.

“Rencana pembelian GG harus benar-benar didasari kebutuhan nyata dan juga kemampuan pengoperasiannya, bukan dibeli hanya karena pride atau alasan lainnya,” kata Fauzan keada CNN Indonsia, Kamis (11/9).

Banyak persoalan
Fauzan mempertanyakan, kemampuan TNI AL mengoperasikan kapal tersebut dari sisi  SDM, biaya perawatan, bahan bakar, persenjataan, hingga pangkalan yang mampu menunjang operasi, pemeliharaan, dan perawatan.

“Kemudian konsep operasi, apakah TNI AL memang butuh kapal induk dan butuhnya mendesak sekarang juga?” ujarnya.

Ia berharap, berbagai persoalan terkait rencana pembelian itu sebaiknya dijelaskan secara terbuka oleh TNI AL dan Kemenhan agar publik bisa menilai baik-buruknya.

“Apalagi umur Garibaldi sudah cukup tua, statusnya bekas, dan situasi dalam negeri saat ini di mana publik sangat kritis terhadap pengeluaran pemerintah yang dinilai tidak produktif dan mahal,” ujar kandidat master kajian keamanan global di The Johns Hopkins University itu.

Pengalaman Thailand
Fauzan menyebut pengalaman Thailand dengan kapal induk pengangkut helikopter HTMS Chakri Naruebet harus jadi pelajaran dalam pengadaan alutsista yang sama di Indonesia.

Ia menyebut Thailand tidak bisa mengoperasikan secara maksimal dan kapal induk tersebut lebih banyak menghabiskan waktu di pelabuhan dibandingkan di laut sehingga HTMS Chakri bisa dibilang sudah kehilangan banyak fungsi sebagai kapal induk.

“Intinya jangan dipaksakan karena nanti manfaat dan fungsinya tak sebanding dengan  biaya yang harus dikeluarkan. Bisa jadi lebih baik anggarannya digunakan untuk menambah jumlah kapal fregat,” katanya.

Sementara menurut Direktur penjualan kapal perang  Fincantieri, Mauro Manzini, GG mampu mengoperasikan berbagai drone, helikopter, pesawat sayap tetap hingga perlata tempur amfibi.

“Kapal ini juga punya kemampuan yang terbukti dalam operasi kemanusiaan dan bantuan bencana,” ujar dia.

Rencana RI mengakuisisi GG tengah jadi sorotan, mengingat jika terealisasi, langkah ini akan menjadikan negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki kapal induk pengangkut psawat sayap tetap (aircraft carrier).

Sedangkan KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali menegaskan, rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan dengan pihak Italia.

Meski begitu, publik langsung menaruh perhatian pada spesifikasi kapal induk Giuseppe Garibaldi yang disebut tangguh meski sudah berusia lebih dari 40 tahun.

ITS Giuseppe Garibaldi (C 551) merupakan kapal induk ringan AL Italia yang dibangun oleh Fincantieri di galangan Monfalcone, dimulai pada 1981, diluncurkan pada 1983, dan resmi beroperasi pada 1985.

Giuseppe Garibaldi adalah jenderal perang yang berjasa dalam penyatuan Italia.  Selama empat dekade, kapal induk ini sudah terlibat dalam berbagai operasi militer, mulai dari Somalia, Kosovo, Afghanistan, hingga Libya.

Jenis GG

Kapal induk ringan (resmi disebut kapal penjelajah

pengangkut pesawat), panjang: 180 meter lebar: 33 meter,  bobot penuh: 14.000 ton, penggerak: 4 turbin gas LM2500, tenaga: >80.000 tenaga kuda

Kecepatan maksimum: 30 knot (56 km/jam), jarak jelajah: 7.000 mil laut, kru: sekitar 830 orang, termasuk teknisi udara dan staf komando

Rencananya GG akan mengalami rekonstruksi besar-besaran. Informasi yang dikutip dari pameran Indodefense 2025 menyebutkan sejumlah perombakan.

Pemindahan buritan dan cerobong asap diperlukan guna menambah lift pesawat. Modernisasi sistem elektronik, termasuk radar terbaru dengan antena array bertahap.

Peningkatan fungsi kapal sebagai pusat komando bergerak, lengkap dengan sistem pertahanan udara, antikapal, dan anti-kapal selam.

Proyek rekonstruksi ini disebut membutuhkan biaya besar, bahkan bisa setara dengan pembangunan kapal baru, mengingat struktur kapal di bawah dek perlu diubah total.

 

Spesifikasi utama

GG adalah kapal induk ringan atau disebut juga kapal penjelajah pengangkut pesawat).

Panjang: 180 meter, lebar: 33 meter, bobot penuh: 14.000 ton, penggerak: empat turbin gas LM2500, 80.000 tenaga kuda, kecepatan maksimum: 30 knot (56 km/jam), jarak jelajah: 7.000 mil laut, kru: sekitar 830 orang, termasuk teknisi udara dan staf komando.

Mampu mengoperasikan jet tempur(lendas pacu pendek dan pendaratan vertikal –  STOVL seperti AV-8B Harrier II dan berbagai jenis helikopter.

Informasi yang dikutip dari pameran Indodefense 2025 menyebutkan sejumlah pembaruan, seperti perluasan dek kapal untuk mendukung operasional lebih banyak pesawat.

Pemindahan buritan dan cerobong asap guna menambah lift pesawat dan modernisasi sistem elektronik, termasuk radar terbaru dengan antena array bertahap.

Peningkatan fungsi kapal sebagai pusat komando bergerak, lengkap dengan sistem pertahanan udara, antikapal, dan anti-kapal selam.

Namun, proyek rekonstruksi ini disebut membutuhkan biaya besar, bahkan bisa setara dengan pembangunan kapal baru, mengingat struktur kapal di bawah dek perlu diubah total.

Harga kapal induk sangat bervariasi, mulai dari kapal induk ringan seken diperkirakan Rp16-an triliun hingga kapal induk super seperti USS Gerald R. Ford yang dibandrol Rp200 triliun, bahkan lebih.

Biaya ini sangat bergantung pada ukuran, teknologi, dan kemampuan kapal, ditambah lagi ada biaya operasional tahunan yang sangat besar untuk bahan bakar, perawatan, dan kru.

Faktor yang Mempengaruhi Harga

  • Ukuran dan Teknologi:

Kapal induk adalah “kota terapung” yang kompleks dengan berbagai subsistem rumit. Semakin canggih teknologinya, semakin mahal harganya.

  • Jenis Penggerak:

Kapal induk bertenaga nuklir seperti Charles De Gaulle atau kelas Ford tentu lebih mahal dari kapal induk konvensional.

  • Biaya Operasional:

Selain harga pembuatan, negara juga harus menanggung biaya operasional tahunan yang sangat besar, termasuk bahan bakar, pemeliharaan peralatan elektronik dan senjata, serta gaji awak kapal.

Saat ini ada 23 kapal induk pengangkut pesawat yang dioperasikan oleh enam negara yakni AS/11, China/3, Prancis/2, India/2, Inggeris/2/, Italia/2 dan Rusia/1 serta  34 kapal induk pengangkut helikopter yang digunakan 13 negara yakni AS/9, Australia/2, Brazil/1, China/4, Jepang/4, Korea Selatan/2,  Perancis/3, Inggeris/2, Italia/2, Mesir/2, Spanyol/1, Thailand/1 dan Turkiye/1.

Selain harga dan pengoperasiannya yang mahal, termasuk perawatannya, belum lagi biaya operasional seperti bahan bakar, kapal-kapal pendukung dan awak kapal, kapal induk juga rawan dari serangan rudal-rudal jelajah atau drone siluman bawah air yang lintasannya tidak beraturan.

Dalam simulasi yang ditulis Harrison Kass di majalah the Natioal Interest beberapa waktu lalu, kapal selam konvensional Swedia HSwMS Gotland berbobot 1.400 ton berhasil menyusup dan menenggelamkan kapal induk AS USS Ronald Reagan  berukuran 101.400 ton.

Hitung dan pertimbangkan dengan cermat berbagai aspek secara komprehensif sebelum membeli. (CNN/berbagai sumber)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here