
KEMENTERIAN Kesehatan Jepang seperti dilaporkan Kyodo News Jumat lalu (12/9) mengumumkan, jumlah warganya berusia 100 tahun atau lebih telah mencapai rekor 99.763 orang, 88 persen perempuan.
Untuk tahun ke-55 berturut-turut, angka tersebut kembali mencatatkan rekor baru. Sebagai pembanding, angka rata-rata harapan hidup orang Indonesia saat ini 74,15 tahun, sedangkan orang Jepang yang pada 1947 hanya sampai 53,9 tahun, kini sudah mencapai 84,3 tahun.
Jepang dikenal sebagai negara dengan angka harapan hidup terpanjang di dunia, serta kerap menjadi tempat tinggal orang tertua di dunia, meski sebagian penelitian masih memperdebatkan jumlah pasti centenarian (usia 100 tahun ke atas) secara global.
Selain itu, Jepang juga termasuk salah satu masyarakat dengan tingkat penuaan terlambat di dunia, ditandai dengan pola makan yang relatif sehat, namun tingkat kelahiran yang rendah.
Orang tertua di Jepang adalah Shigeko Kagawa, seorang perempuan berusia 114 tahun dari Yamatokoriyama, pinggiran kota Nara. Sementara itu, pria tertua adalah Kiyotaka Mizuno, 111 tahun, dari kota pesisir Iwata.
Menteri Kesehatan Takamaro Fukoka mengucapkan selamat kepada 87.784 wanita dan 11.979 pria yang berusia seratus tahun atas umur panjang mereka dan menyampaikan rasa terima kasih atas kontribusi mereka selama bertahun-tahun bagi kemajua masyarakat.
Angka-angka tersebut dirilis menjelang Hari Lansia Jepang pada 15 September, hari libur nasional saat para centenarian akan menerima surat ucapan selamat dan piala perak dari Perdana Menteri Shigeru Ishiba yang akan diberikan pada 52.310 orang.
Prefektur Shimare tertinggi
Namun distribusi usia panjang di Jepang tidak merata di semua wilayah. Saat ini Prefektur Shimane di wilayah barat Jepang masih tercatat sebagai penyumbang angka lansia tertinggi dengan 168,69 centenarian per 100.000 penduduk.
Pada tahun 1960-an, populasi Jepang memiliki proporsi penduduk berusia di atas 100 tahun terendah di antara semua negara G7 – tetapi hal itu telah berubah secara signifikan dalam beberapa dekade sejak saat itu.
Ketika pemerintahnya memulai survei centenarian pada tahun 1963, ada 153 orang yang berusia 100 tahun atau lebih. Angka itu naik menjadi 1.000 pada tahun 1981 dan mencapai 10.000 pada tahun 1998.
Tentu tingkat capaian usia panjang warga Jepang tidak lepas dari pola hidup sehat yang membudaya di negeri Matahari Terbit, termasuk disiplin berolah raga, menjaga pola makan, dan juga lingkungan sehat dan sistem layanan kesehatan yang diberikan pemerintah.
Meski Jepang dikenal dengan centenariannya namun sebenarnya distribusi usia panjang di Jepang tidak merata di semua wilayah.
Saat ini Prefektur Shimane di wilayah barat Jepang masih tercatat sebagai penyumbang angka lansia tertinggi dengan 168,69 centenarian per 100.000 penduduk.
Salah satu centenarian di Jepang, Kiyotaka Mizuno (110) mengaku tak tahu rahasia umur panjangnya. “Saya sama sekali tidak tahu apa rahasia umur panjang saya,” ujar Mizuno.
Mizuno saat ini tinggal di Prefektur Shizuoka bersama keluarganya. Rutinitasnya bangun pagi pukul 06.30 WIB, makan tiga kali sehari tanpa pilih-pilih makanan.
Sedikit makan daging
Peneliti dari LongeviQuest, Yumi Yamamoto, sempat melakukan survei pada 269 orang yang berusia lebih dari 100 tahun di Jepang.
Dari hasil survei pada tahun lalu itu, para centenarian cenderung tidak banyak makan daging dan menghabiskan banyak waktu bersama keluarga.
“Pepatah di Jepang yang mengatakan, orang sebaiknya hanya makan sampai 80 persen kenyang. Jadi Anda harus menyisakan ruang di perut setelah makan,” ujar Yamamoto menyebut salah satu kebiasaan centenarian.
Dengan kebiasaan itu, orang Jepang mempraktikkan pola makan yang penuh perhatian dan pembatasan kalori ringan. Berdasarkan penelitian, cara ini bisa membantu menurunkan risiko peradangan dan bermanfaat untuk umur lebih panjang, walau penelitian lanjutan soal ini masih diperlukan.
Rata-rata warga di zona biru Okinawa, Jepang, hanya mengonsumsi kalori sekitar 1.900 per hari. Jumlah ini jauh lebih rendah dari yang direkomendasikan sebanyak 2.000 kalori.
Tak hanya soal makanan, para centenarian Jepang ternyata juga rutin bergerak. Sebagai informasi sejak 1928 siaran radio di Jepang sudah mengajak pendengarnya melakukan latihan beban dan senam.
Mayoritas orang tua tak lagi pergi ke pusat kebugaran dan menjadikan aktivitas harian mereka sebagai olahraga, melainkan berjalan, menaiki tangga hingga olahraga kelompok sekaligus demi menjalin interaksi sosial.(Kyodo/Detik.com/ns)



