Baru Lima Hari Dilantik, Presiden Peru Disambut Demo

Demo besar-bsaran di Lima, Peru sejak Rabu Lalu (15/10) mnentang Presiden Jose Jeri yang baru dilantik lima hari lalu . Seorangpendemo sedang brtahan dari tembakan gas air mata.(ilustrasi: Reuters)

GELOMBANG aksi demo di Peru kembali pecah di ibu kota Lima sejak Rabu (15/10), selang lima hari setelah Presiden Jose Jeri dilantik, menggantikan Dina Boluarte yang dimakzulkan.

BBC melaporkan (17/11), aksi yang digerakkan oleh aktivis muda atau “Gen Z”, pekerja transportasi, dan kelompok masyarakat sipil itu berujung bentrok dengan aparat dan menewaskan satu orang serta melukai lebih 100 lainnya.

Para pendemo menuntut pemerintah untuk berbuat lebih banyak menekan kejahatan dan memberantas korupsi, yang disebut telah mengakar di seluruh lapisan politik Peru.

Demonstran yang membawa bendera serial manga One Piece bentrok dengan polisi dalam protes terhadap Presiden sementara Peru, Jose Jeri, di Lima pada Rabu, 15 Oktober lalu.

Bentrok pendemo vs polisi

Bentrokan pecah di sekitar gedung Kongres di Lima saat ribuan demonstran meneriakkan slogan:  “semua harus pergi” sambil berusaha merobohkan barikade besi yang dijaga aparat.

Polisi menembakkan gas air mata, sementara sebagian massa membalas dengan kembang api dan batu. Menurut Kantor Ombudsman Peru, sedikitnya 100 orang terluka, termasuk 80 polisi dan 10 jurnalis. “Enam jurnalis terkena peluru karet dan empat lainnya diserang aparat,” kata Asosiasi Jurnalis Nasional Peru.

Sementara itu, seorang demonstran, Eduardo Ruiz Saenz (32), yang juga dikenal sebagai musisi hip-hop, tewas tertembak dalam insiden itu.

Kantor kejaksaan Peru menyebut Ruiz meninggal akibat luka tembak dan tengah menyelidiki dugaan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia.

“Badan Kejaksaan telah memerintahkan pengumpulan bukti audiovisual dan balistik di lokasi kejadian,” tulis institusi itu di media sosial X.

Anggota parlemen dari kubu kiri, Ruth Luque, mengatakan “informasi awal menunjukkan korban tewas karena luka tembak di dada”.

Ia juga mengunggah foto saat berbicara dengan petugas rumah sakit tempat korban dirawat sebelum meninggal.

Beberapa saksi yang dikutip media lokal mengaku melihat penembakan dilakukan oleh seorang pria berpakaian sipil yang dituduh sebagai polisi yang menyusup di tengah massa.

Kepolisian Nasional Peru (PNP) kemudian menyatakan, salah satu anggotanya, Luis Magallanes, terlibat dalam penembakan setelah sebelumnya diserang massa.

Kepala PNP, Oscar Arriola, mengatakan Magallanes telah dicopot dari jabatannya dan dirawat di rumah sakit, Presiden Jose Jeri menyampaikan penyesalan atas tewasnya Ruiz dan berjanji mengusut insiden itu secara objektif.

“Saya menyesali kematian ini. Akan ada penyelidikan objektif untuk menentukan apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang bertanggung jawab,” tulisnya di platform X.

Namun, Jeri menegaskan tidak akan mundur dari jabatannya dan akan menyelesaikan tanggung jawabnya.

“Tanggung jawab saya adalah menjaga stabilitas negara. Itulah tanggung jawab dan komitmen saya,” ujarnya kepada media lokal setelah bertemu anggota parlemen.

Ia mengatakan, pemerintahannya akan meminta kewenangan khusus kepada Kongres untuk menangani masalah kejahatan dan keamanan publik yang makin parah.

Situasi darurat

Sementara itu, PM Ernesto Alvarez menyatakan, pemerintah akan segera memberlakukan status darurat di Lima dan menyiapkan paket kebijakan untuk menghadapi lonjakan kriminalitas.

Aksi protes ini menjadi ujian besar pertama bagi Jeri, yang baru dilantik pada Jumat (10/10), menggantikan Dina Boluarte. Boluarte dilengserkan oleh Kongres atas tuduhan “ketidakmampuan moral permanen”.

Jeri yang berasal dari kader Partai Somos Peru, naik dari kursi ketua parlemen ke jabatan presiden sementara. Ia merupakan presiden ketujuh Peru dalam delapan tahun terakhir.

Namun, sebagian publik menilai Jeri hanya melanjutkan pola kekuasaan lama. Para demonstran menuduh partainya dulu ikut menopang pemerintahan Boluarte.

“Setelah isu pensiun, muncul kemarahan lain — terkait rasa tidak aman, lemahnya negara, dan korupsi,” kata Omar Coronel, sosiolog dari Universitas Katolik Pontifikal Peru, kepada media lokal.

Di jalanan Lima, banyak spanduk bertuliskan “Protes adalah hak, membunuh adalah kejahatan” dan “Dari pembunuh ke pemerkosa, sama saja busuknya”, merujuk pada tudingan terhadap Jeri.

Jeri pernah dilaporkan memperkosa seorang perempuan namun kasusnya telah ditutup jaksa, Agustus lalu. (BBC/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here