AS Bersiap Serang Iran?

AL AS dikabarkan mengirimkan kapal induk terbesarnya USS Gerald Ford, untuk memperkuat kapal induk USS Abraham Lincoln yang sudah duluan disiapkan di perairan Timur Tengah (foto: youtube)

MILITER Amerika Serikat (AS) dikabarkan tengah mempersiapkan ‘operasi berkelanjutan selama berminggu-minggu’ jika diperlukan di Iran jika Presiden Donald Trump memerintahkan serangan.

Hal itu disampaikan oleh pejabat AS yang menolak diungkap identitasnya kepada Reuters yang juga menilai, pengungkapan ini menjadi taruhan bagi diplomasi yang sedang bergulir antara AS dan Iran.

“Jika terjadi, maka serangan ini berpotensi menjadi konflik yang lebih serius daripada yang pernah terjadi sebelumnya di antara kedua negara,” ujar narasumber itu.

AS dan Iran telah menggelar pertemuan di Oman pekan lalu untuk memulai kembali negosiasi nuklir, namun, negosiasi masih alot dan akan memasuki putaran kedua dalam waktu dekat.

Trump juga dilaporkan saat berbicara dengan pasukan AS, Jumat (13/2) menyebutkan, sulit untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.

“Hanya itulah (perag maksudenya-red) yang benar-benar akan menyelesaikan situasi ini,” ujar Trump. Terkait hal tersebut, Jubir Gedung Putih Anna Kelly  mengatakan bahwa Trump memiliki banyak opsi terkait Iran.

“Dia mendengarkan berbagai perspektif terkait setiap isu, tetapi membuat keputusan akhir berdasarkan yang terbaik bagi negara dan keamanan nasional,” ujar Kelly.

Pentagon juga menolak berkomentar saat ditanya tentang kemungkinan serangan ke Iran. Sebelumnya, Trump juga dilaporkan telah mengirimkan kapal induk terbesar di dunia USS Gerald R Ford ke wilayah Timur Tengah.

Kapal itu dilaporkan akan segera meninggalkan Karibia menuju Timur Tengah dalam waktu dekat.

Tiga pekan sampai Timteng
USS Gerald R Ford butuh waktu sekitar tiga pekan untuk tiba di Timur Tengah. Kapal itu akan bergabung dengan kelompok tempur USS Abraham Lincoln yang sudah mengepung Iran sejak Januari lalu.

Iran sudah menyatakan bersedia mengurangi pengayaan nuklir jika AS mencabut semua sanksi terhadap mereka. Namun, Iran menolak tuntutan soal rudal balistik dan dukungan untuk proksinya.

Trump sudah mengancam akan menyerang jauh lebih buruk dari sebelumnya jika Iran tetap keras kepala. Ia merujuk pada serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 lalu.

Presiden AS Donald Trump blak-blakan mengutarakan keinginannya untuk melihat perubahan rezim di bawah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei saat ketegangan antara kedua negara meningkat.

“Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” kata Trump kepada wartawan usai kunjungan ke Fort Bragg di North Carolina, seperti dikutip Anadolu Agency.

Trump mengatakan, selama 47 tahun terakhir, banyak orang kehilangan nyawa di bawah pemerintahan teokratis tersebut.

“Selama 47 tahun, mereka telah bicara, bicara, dan bicara. Kami kehilangan banyak nyawa saat mereka bicara,” ucap Trump, namun saat ditanya siapa yang cocok untuk ‘mengambil alih’ Iran, Trump enggan menjawab. “Saya tidak ingin membicarakannya. [Tapi tentu saja] ada sejumlah orang,” ucapnya.

Kekuatan Luar Biasa
Trump pada kesempatan itu menyatakan, ‘kekuatan luar biasa’ akan segera tiba di Timur Tengah, merujuk pada armada kapal induk USS Gerald R. Ford yang telah diperintahkan menuju kawasan itu.

“Kekuatan tambahan, seperti kapal induk lain, akan segera tiba [di Timur Tengah]. Mari kita lihat apakah kita bisa menyelesaikan masalah ini sekarang,” kata Trump.

AS dan Iran bersitegang usai Iran dilanda demo berdarah yang menewaskan ribuan orang. Iran menuding AS menunggangi demo sipil. Demo pada 28 Desember itu mulanya memprotes krisis ekonomi.

Pada 13 Januari, Trump membuat komentar, menyerukan rakyat Iran terus berdemo dan merebut gedung-gedung pemerintah.

“Para pejuang Iran, teruslah berdemo, ambil alih institusi pemerintah. Bantuan sedang dalam perjalanan,” tulis Trump di Truth Social X.

Komando Pusat (CENTCOM) AS pada 26 Januari kemudian mengabarkan kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, telah tiba di Timur Tengah. Sejak saat itu, AS memperkuat militer di kawasan dan mulai mengepung Iran.

Awalnya, dalih AS mengerahkan armada perang ke Iran untuk membantu para pedemo. Namun, kini AS menggunakan negosiasi nuklir sebagai alasan.

Trump sudah mengancam akan menyerang Iran lebih parah dari sebelumnya jika Teheran tak segera membuat kesepakatan.

Negosiasi alot

Negosiasi AS-Iran terkait program nuklir Teheran akhirnya kembali dilanjutkan di Oman, 6 Februari lalu, dan kini akan memasuki putaran kedua.

Iran sudah menyatakan bersedia mengurangi pengayaan uranium jika AS mencabut semua sanksi terhadap mereka.

Namun, Iran menolak tuntutan AS yang lain, yakni soal penghentian program rudal balistik dan dukungan Iran ke proksi.

Presiden Trump blak-blakan mengutarakan keinginannya untuk melihat perubahan rezim di bawah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei saat ketegangan antara kedua negara meningkat.

“Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” kata Trump kepada wartawan usai kunjungan ke Fort Bragg di North Carolina, seperti dikutip Anadolu Agency.

Trump mengatakan, selama 47 tahun terakhir, banyak orang kehilangan nyawa di bawah pemerintahan teokratis tersebut.

“Selama 47 tahun, mereka telah bicara, bicara, dan bicara. Kami kehilangan banyak nyawa saat mereka bicara,” ucap Trump.

Saat ditanya siapa yang cocok untuk ‘mengambil alih’ Iran, Trump enggan menjawab.

“Saya tidak ingin membicarakannya. [Tapi tentu saja] ada sejumlah orang,” ucapnya.

Negosiasi AS-Iran terkait program nuklir Teheran akhirnya kembali dilanjutkan pada 6 Februari lalu, dan kini akan memasuki putaran kedua.

Iran sudah menyatakan bersedia mengurangi pengayaan uranium jika AS mencabut semua sanksi terhadap mereka, namun menolak tuntutan AS yang lain, yakni soal penghentian program rudal balistik dan dukungan Iran ke proksi. (CNNI/Reuters/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here