Rupiah Melemah, Dekati Rp17.000 per dollar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah menjadi Rp16.991/USD a.l. akibat dampak kebijakan moneter ketat The Fed (ilustrasi: RRI)

NILAI rupiah melemah 0,28 persen ke level Rp 16.931 per dollar AS pada pembukaan, Kamis pagi (19/2) dibandingkan penutupan pada hari sebelumnya Rp16.884.  

Data Bloomberg menyebutkan, pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang cenderung bervariasi.

Saat pembukaan pasar pagi ini, yen Jepang tercatat melemah 0,09 persen, sebaliknya Baht Thailand justru menguat 0,24 persen. Yuan China terkoreksi tipis 0,05 persen, diikuti peso Filipina yang turun 0,12 persen dan won Korea Selatan melemah 0,21 persen.

Di sisi lain, dollar Singapura menguat tipis 0,03 persen, sedangkan dollar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.

AS Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah diperkirakan bergerak melemah terhadap dollar AS, seiring penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

Penguatan dollar didorong rilis sejumlah data ekonomi AS yang lebih kuat dari ekspektasi pasar, mulai dari sektor perumahan, aktivitas manufaktur, hingga penjualan barang tahan lama.

Dipersepsikan, ekonomi AS masih resilien, sehingga ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas dalam waktu dekat.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dollar AS yang menguat cukup besar setelah data-data ekonomi seperti perumahan, manufaktur dan penjualan barang tahan lama yang lebih kuat dari perkiraan,” ujar Lukman kepada Kompas.com.

Kebijakan hawkish

Sentimen tersebut diperkuat oleh risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang kembali menegaskan sikap hawkish Federal Reserve (The Fed, AS) dengan kebijakan moneter ketat, agresif menerapkan suku bunga tinggi atau mengurangi jumlah uang beredar untuk mengendalikan inflasi.

Sebaliknya Bank sentral AS tersebut memberi sinyal kehati-hatian dalam memangkas suku bunga, mengingat inflasi yang masih perlu dijaga agar tetap terkendali.

Dari dalam negeri, pelaku pasar justru bersikap ‘wait and see’ menjelang rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan sore ini.

Secara teknikal, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 16.850 hingga Rp 17.000 per dollar AS, dengan tekanan masih cenderung mengarah ke sisi pelemahan selama sentimen global belum berubah signifikan.

“The Fed yang bernada hawkish dalam risalah pertemuan FOMC (Komite Pasar Terbuka Feeral ) juga ikut melejitkan dollar AS. Sedangkan dari domestik, investor justru mengantisipasi kemungkinan sikap dovish BI (kebijakan moneter longar demi memicu pertumbuhan ekonomi) dalam rapat dewan gubernur sore ini.

Trend penurunan nlai tukar rupiah yang sudah jauh melewati ambang batas tertinggi saat krismon 1998 (Rp16.550) harus terus diamati.  (Bloomberg/kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here