Cerita Tim Robotik Sekolah Asal Australia Terjebak di Dubai

JAKARTA, KBKNews.id – Australia berhasil memulangkan warga negaranya yang terjebak konflik di Timur Tengah pada Rabu (4/3/2026). Sebagian di antara mereka yakni wisatawan hingga ekspatriat.

Di antara penumpang yang kembali juga terdapat tim robotik dari Barker College di Sydney yang sebelumnya dijadwalkan mengikuti kompetisi global di Istanbul, Turki. Mereka terpaksa menunggu di Dubai selama beberapa hari setelah penerbangan dibatalkan akibat konflik yang memanas.

Kepala sekolah Barker College, Phillip Heath, mengatakan para siswa dan orang tua mengalami masa yang penuh kecemasan selama menunggu kepastian kepulangan.

“Para orang tua sangat sabar, tapi situasinya sangat tidak pasti. Kami hanya berharap anak-anak bisa segera pulang dengan selamat,” katanya, seperti dilansir dari Sydney Harold, Kamis (5/3/2026).

Salah satu anggota tim, Ryan Trevithick, mengaku pengalaman tersebut penuh tekanan.

“Ada banyak rasa lelah dan kegelisahan selama menunggu. Tapi kami saling mendukung satu sama lain dan itu membantu kami melewati masa sulit ini,” ujarnya.

Kisah haru juga datang dari Iman Kreyam yang langsung dipeluk keluarganya begitu keluar dari pintu kedatangan. Ia sebelumnya terjebak di Bandara Dubai selama beberapa jam tanpa akses obat-obatan penting saat hendak melakukan perjalanan ke Lebanon untuk menjenguk ayahnya yang sakit kanker.

Putranya, Zafer, mengatakan momen kepulangan ibunya menjadi hari paling bahagia bagi keluarga mereka.

“Kami hanya ingin ibu pulang dengan selamat. Melihat dia kembali adalah kebahagiaan terbesar bagi kami,” katanya.

Seorang warga Australia lainnya, Alessandra Fuscaldo, juga mengaku mengalami pengalaman traumatis saat konflik mulai terasa dekat dengan tempat tinggalnya di Uni Emirat Arab.

Ia mengingat bagaimana rumahnya sempat bergetar akibat serangan militer di wilayah sekitar. Fuscaldo sendiri berencana menikah di Hunter Valley minggu depan dan langsung disambut keluarga besarnya di bandara.

Pemerintah Australia memperkirakan masih ada sekitar 115.000 warga Australia, baik wisatawan maupun ekspatriat, yang berada di kawasan Timur Tengah saat konflik meningkat. Sekitar 24.000 orang di antaranya masih berada di Uni Emirat Arab dan menunggu kepastian penerbangan untuk pulang.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan pemerintah telah mengirim enam tim krisis ke Timur Tengah untuk membantu proses pemulangan warga. Sementara itu, Angkatan Bersenjata Australia juga membentuk satuan tugas khusus untuk menyiapkan kemungkinan evakuasi massal.

Konflik yang terjadi di kawasan tersebut juga menyebabkan banyak penerbangan internasional dibatalkan atau dialihkan. Timur Tengah merupakan jalur penerbangan penting yang menghubungkan Australia dengan Eropa dan digunakan oleh ribuan penumpang setiap hari.

Maskapai Emirates dan Etihad mulai membuka kembali beberapa penerbangan terbatas untuk membantu pemulangan warga yang terjebak, meskipun situasi keamanan di wilayah tersebut masih sangat dinamis.

Bagi para penumpang yang akhirnya berhasil pulang, tepuk tangan menggema di dalam pesawat saat roda pesawat menyentuh landasan Bandara Sydney—sebuah tanda kelegaan setelah hari-hari yang penuh kecemasan di tengah bayang-bayang perang.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here