Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran Gantikan Sang Ayah

JAKARTA, KBKNEWS.id – Mojtaba Hosseini Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

Penunjukan tersebut diputuskan oleh Majelis Ahli Iran, lembaga ulama beranggotakan 88 orang yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi negara itu. Keputusan diambil di tengah situasi keamanan yang memanas menyusul rangkaian serangan militer di berbagai wilayah Iran.

Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua Ali Khamenei. Meski tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan politik atau mengikuti pemilihan umum, ia dikenal memiliki pengaruh kuat dalam lingkaran kekuasaan Iran selama beberapa dekade terakhir.

Selama ini Mojtaba juga disebut memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Kedekatan tersebut telah terjalin sejak masa mudanya ketika ia pernah bertugas dalam salah satu batalyon IRGC pada masa Perang Iran-Irak di dekade 1980-an.

Meski memiliki pengaruh besar di balik layar, Mojtaba dikenal jarang tampil di ruang publik. Ia hampir tidak pernah menyampaikan pidato politik atau ceramah terbuka, sehingga banyak warga Iran tidak pernah mendengar langsung suaranya.

Penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi juga memunculkan perdebatan karena dinilai berpotensi menciptakan dinasti politik dalam sistem Republik Islam Iran. Hal ini mengingatkan sebagian pihak pada sistem monarki sebelum Revolusi Islam 1979.

Selain itu, nama Mojtaba Khamenei juga kerap dikaitkan oleh kelompok oposisi dengan tindakan represif terhadap demonstrasi anti-pemerintah, termasuk saat Gerakan Hijau pada 2009 yang memprotes hasil pemilihan presiden saat itu.

Saat ini Mojtaba diketahui menyandang gelar keagamaan hojatoleslam, tingkat ulama menengah. Namun situasi serupa pernah terjadi pada ayahnya yang juga belum bergelar ayatullah ketika diangkat menjadi pemimpin tertinggi pada 1989.

Penunjukan Mojtaba Khamenei menandai babak baru kepemimpinan Iran di tengah meningkatnya ketegangan regional serta konflik yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here