Rupiah dan IHSG Anjlok

IHSG melemah 4,52 persen pada sesi pembukaan perdagangan, Senin 9 Maret 2026 ke posisi 7.242, 3 gegara imbas konflik TImur Tengah. (ilustrasi BEJ)

NILAI tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbarengan anjlok pada pembukaan perdagangan Senin (9/3) akibat dampak perang Iran melawan koalisi Amerka Serikat dan Iasrael yang berkontribus melamabungkan harga minyak global.

Rupiah di pasar spot dibuka tertekan 69 poin atau 0,41 persen ke level Rp 16.994 per dollar AS. Sementara itu IHSG terkoreksi 421,40 poin atau 5,56 persen ke posisi 7.164,28.

Digempur sentimen global konflik Timteng, nilai tukar rupiah bahkan anjlok 84 poin dari nilai tukar perdagangan akhir pekan lalu, menembus angka psikologis Rp17.009 per dollar AS.

Sejak awal perdagangan, IHSG langsung bergerak di zona merah, dibuka di angka 7.374,31 yang juga menjadi posisi tertinggi intraday, namun tekanan jual yang cukup besar membuat indeks terus bergerak turun hingga menyentuh posisi terendah di 7.163,48.

Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat cukup aktif dengan volume perdagangan mencapai 10,86 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 4,69 triliun dari total 470.258 kali transaksi.

Dari sisi pergerakan saham, mayoritas emiten berada di zona merah. Tercatat hanya 29 saham menguat, sementara 658 saham melemah, dan 39 saham stagnan.

Analis mata uang Doo Financial Future, Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan terhadap dollar AS, seiring memburuknya sentimen risk off di pasar keuangan global.

Kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus level psikologis 100 dollar AS per barel.

Perlambatan Ekonomi Global

Sementara itu, kenaikan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi perlambatan ekonomi global sekaligus mendorong kembali tekanan inflasi di berbagai negara.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati 100 dollar AS per barrel dikuatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi,” ujar Lukman saat dihubungi Kompas.com.

Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung mengalihkan portofolio mereka ke aset yang dianggap lebih aman seperti dollar AS dan obligasi pemerintah AS.

Pergeseran aliran modal tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan karena arus dana global bergerak keluar dari pasar berisiko menuju aset safe haven.

Sementara, isu kelangkaan BBM membuat warga Medan Medan mengalami ‘panic buying’ sejak Jumat (6/3)  dengan menyerbu sejumlah SPBU sehingga antriannya ‘meluber’ hingga ke jalan dan menyebabkan kemacetan parah.

Informasi terkait lonjakan warga ngantri di SPBU juga dilaporkan di beberapa kota di Sumatera Utara seperti Tebing Tinggi dan lainnya.

Namun Senin ini )9/3) dilaporkan situasi di SPBU sudah normal kembali, tidak tampak lagi antrian mengular.

Kecemasan warga a.l. dipicu keterangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang menyebutkan, cadangan BBM Indonesia hanya cukup untuk 20 hari ke depan.

Aksi blokade Selat Hormuz dan penenggelaman kapal tanker yang melayari selat sempit yang digunakan mengangkaut seperlima perdagangan minyak dunia itu oleh Iran sejak awal perang (28/2) dikhawatirkan terus melonjakkan harga energi fosil tersebut.

Harga minyak jenis WTI yang menjadi patokan global, Senin pagi tercatat mencapai 110,60 per barel, atau mencapai nilai tertinggi sejak Juni, 2022 di tengah kekhawatiran konflik Timur Tengah akan berlagsung lama.

Situasi saat ini memang masih tak menentu, terutama terkait di Temteng, sampai kapan akan berlangsung?

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here