JAKARTA, KBKNEWS.id – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa perang dengan Amerika Serikat dan Israel dapat dihentikan jika sejumlah syarat dipenuhi.
Pernyataan itu disampaikan ketika konflik yang melibatkan ketiga pihak tersebut telah memasuki hari ke-13.
Melalui unggahan di media sosial X pada Rabu (12/3/2026), Pezeshkian menegaskan bahwa satu-satunya cara mengakhiri perang yang disebutnya dipicu oleh Israel dan Amerika Serikat adalah dengan mengakui hak-hak Iran, membayar reparasi atas kerusakan yang terjadi, serta memberikan jaminan internasional bahwa serangan terhadap Iran tidak akan terulang di masa depan.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal kemungkinan de-eskalasi dari Teheran, yang sebelumnya menolak pembicaraan gencatan senjata sejak konflik meletus hampir dua pekan lalu.
Di tengah gempuran militer dari AS dan Israel, Iran juga melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah aset militer dan infrastruktur penting di kawasan Teluk.
Selain itu, Teheran memperketat kendali di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.
Situasi ini memicu lonjakan harga minyak global. Harga minyak yang sebelumnya berada di kisaran 65 dolar AS per barel melonjak hingga melampaui 100 dolar AS.
Iran bahkan memperingatkan harga dapat menembus 200 dolar AS jika ketegangan terus meningkat.
Namun, terdapat perbedaan sikap di dalam kepemimpinan Iran.
Pemerintahan sipil di bawah Presiden Pezeshkian dinilai lebih terbuka pada jalur diplomasi, sementara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap menunjukkan sikap keras dan melanjutkan serangan terhadap target AS dan Israel.
Di sisi lain, pesan dari pihak lawan juga beragam. Mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan perang dapat berakhir “segera” karena sebagian besar target telah dihancurkan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan operasi militer akan berlangsung tanpa batas waktu hingga seluruh tujuan tercapai.
Perang ini juga membawa biaya besar bagi Washington. Dalam enam hari pertama saja, Amerika Serikat dilaporkan menghabiskan lebih dari 11,3 miliar dolar AS untuk operasi militer tersebut.





