HARI ke-15 konflik militer antara koalisi Amerika Serikat (AS) – Israel vs Iran, Sabtu (14/3) masih terus berlanjut diwarnai saling mengeklaim kemenangan oleh kedua kubu yang bertikai.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) seperti dilansir CNNI, Sabtu (14/3) mengaku kembali membombardir wilayah Israel dan pangkalan militer AS di berbagai lokasi di Timur Tengah dengan rudal-rudal balistik jenis hipersonik.
Hal Itu menandai serangan ke-44 dalam “Operasi Janji Sejati” yang digelar Iran pada Jumat (13/3) waktu setempat.
Yang diluncurkan Iran antara lain rudal hipersonik Khorramshahr, Kheiber Shekan, dan Fattah serta rudal-rudal Imad dan Qadr yang rata-rata berjangkauan sampai 2.000 km, dan berhulu ledak antara satu ton sampai 1, 8 ton.
Rudal-rudal Iran dilaporkan menghujani wilayah utara Israel seperti Kota Kiryat Shmona, Haifa, Hadera, termasuk wilayah kompleks militer AS di sejumlah lokasi di Timur Tengah.
IRGC menyatakan serangan ditujukan untuk memperingati tewasnya Jenderal Militer Qasem Soleiman, pemimpin Hamas Sayyed Hassan Nasrallah, dan pemimpin Palestina Yahya Sinwar, dikutip dari kantor berita Iran Tasnim News.
Operasi ke-43 True Promise
Iran menyebut serangan ini merupakan lanjutan dari kampanye militer ke-43 Operation True Promise 4 yang mereka klaim berhasil menghantam posisi militer Israel di Tel Aviv, Eliat dan sebelah barat Al Quds.
Sebelumnya, IRGC mengeklaim berhasil menjatuhkan pesawat pengisian bahan bakar Boeing KC-130 Stratotanker saat tengah melakukan pengisian BBM ke jet tempur Israel.
Serangan itu diklaim berhasil menewaskan enam awak pesawat tersebut.
“Tentara Amerika harus meninggalkan wilayah (di Timur Tengah) secepatnya atau kami akan kubur kalian di bawah puing-puing di setiap lokasi termasuk hotel, terowongan, zona industri, dan perlindungan bawah tanah,” demikian pernyataan IRGC.
Ajudan senior IRGC Brigadir Jenderal Ali Fadavi sebelumnya mengatakan bahwa pasukan AS dan Israel telah mengalami kemunduran parah sejak Operation True Promise 4 dilaksanakan.
“Perimbangan kekuatan kawasan kini telah bergeser mendukung Front Perlawanan, menandai penurunan dominasi Amerika yang hampa di Asia Barat,” ujar Ali Fadavi (CNN).
AS mengerahkan satuan Marine Expeditionary Unit (MEU), terdiri dari 2.500 personil marinir ke Kawasan Timur Tengah. Kemenhan AS menyebut pengerahan pasukan akan memberi komandan militer opsi tambahan menghadapi eskalasi konflik dengan Iran.
Tiga pejabat yang mengetahui rencana tersebut mengatakan bahwa belum jelas di mana tepatnya MEU akan ditempatkan atau untuk misi apa.
Namun, unit ini biasa digunakan untuk operasi besar seperti evakuasi massal, operasi amfibi dari kapal ke darat, hingga serangan dan penggerebekan.
Melansir CNN, Sabtu (14/3), MEU juga memiliki komponen tempur darat dan udara, serta beberapa unit dilatih untuk operasi khusus.
“Kehadiran mereka memberi komandan tambahan pilihan menghadapi berbagai kontinjensi,” ujar salah satu sumber.
Meski pejabat pemerintahan Trump menegaskan belum ada rencana pengerahan pasukan darat ke negara tertentu, mereka juga tidak menutup kemungkinan tersebut.
Permintaan tambahan pasukan
Sementara itu, laporan The Wall Street Journal via AFP, menyebut permintaan tambahan marinir diajukan Pusat Komando AS ( USCC) bertanggung jawab atas pasukan AS di Timur Tengah.
Sementara itu, New York Times melaporkan sekitar 2.500 personil marinir di atas tiga kapal perang sedang menuju kawasan, termasuk kapal serang amfibi USS Tripoli yang berbasis di Jepang.
Sebelumnya AL AS sudah menempatkan dua kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald Ford dan kapal-apal perang pendukungnya di perairan hanya berjarak ratusan Km dekat wilayah Iran.
Perang Iran melawan AS dan Israel pecah pada 28 Februari usai Washington dan Tel-Aviv melancarkan serangan Udara besar-besaran terhadap fasilitas fasilitas militer Iran.
Serangan tersebut juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, puluhan pejabat teras militer dan memicu eskalasi konflik regional.
Iran merespons serangan tersebut dengan gelombang rudal dan drone ke Israel. Konflik juga meluas ke Lebanon, Tel Aviv, Dubai, dan Abu Dhabi. Dua kota terakhir menjadi target serangan karena selama ini menjadi markas operasi militer AS di Kawasan Teluk.
Para pejabat Kementerian Pertahanan AS mengaku perang melawan Iran telah menelan biaya lebih dari US$11,3 miliar atau sekitar Rp191 triliun pada enam hari pertama.
Dalam sebuah pertemuan di Capitol Hill pada Selasa (10/3), para pejabat Pentagon mengatakan kepada anggota parlemen bahwa estimasi biaya perang melawan Iran saat ini telah melampaui US$11,3 miliar di pekan pertama.
Perkiraan itu belum mencakup biaya-biaya operasional lain, seperti penambahan peralatan dan personel militer menjelang serangan pertama pada 28 Februari.
Oleh sebab itu, parlemen percaya pengeluaran AS untuk konflik Timur Tengah akan sangat fantastis mengingat perang hingga kini masih berlangsung dan Pentagon pun masih menghitung akumulasi pengeluaran di pekan pertama.
Perang ternyata cuma pemborosan yang berdampak luas bagi perekonomian global dan bencana bagi umat manusia serta peradaban. (CNNI/ns)





