
Jakarta, KBKNews.id – Di tengah kecamuk perang yang nyaris melumpuhkan lalu lintas energi di Timur Tengah, sebuah fenomena mengejutkan terjadi di Selat Hormuz. Sementara ekspor dari negara-negara Teluk lainnya hancur akibat serangan terhadap kapal-kapal tanker, minyak mentah Iran justru terus mengalir ke pasar global. Bahkan dengan kecepatan yang mendekati normal.
Berdasarkan tinjauan data pelacakan kapal tanker yang dihimpun Reuters, taktik navigasi “cerdik” dan penggunaan armada bayangan memungkinkan Teheran mempertahankan urat nadi ekonominya meski di bawah tekanan militer Amerika Serikat dan Israel.
Lonjakan Volume di Tengah Krisis
Analisis dari TankerTrackers.com menunjukkan sejak konfrontasi pecah pada 28 Februari lalu, Iran telah berhasil mengirimkan sekitar 13,7 juta barel minyak mentah. Bahkan, penyedia data maritim Kpler mencatat angka yang lebih agresif, yakni mencapai 16,5 juta barel hanya dalam 11 hari pertama bulan Maret 2026.
Kondisi ini sangat kontras dengan produsen minyak lain di kawasan tersebut. Serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi dan kapal-kapal non-Iran telah memaksa banyak negara tetangga menghentikan transit melalui Selat Hormuz dan memangkas produksi mereka secara drastis.
Strategi Navigasi “Zona Aman” dan Armada Bayangan
Kelancaran ekspor Iran ini memicu tanda tanya besar, mengingat AS memiliki rekam jejak ketat dalam melakukan blokade laut. Seperti yang pernah terjadi di Venezuela. Namun, Iran tampaknya memiliki strategi pertahanan yang lebih matang.
Setidaknya 11 juta barel minyak telah keluar dari pelabuhan Iran. Termasuk empat kapal tanker raksasa (VLCC) yang membawa 8 juta barel. Bahkan kapal tanker raksasa ini dilaporkan telah tiba di perairan sekitar Singapura. Kapal-kapal ini menggunakan pola pelayaran yang sangat spesifik untuk menghindari pencegatan.
“Kapal-kapal tersebut mengikuti pola yang sama, yaitu tetap berlayar di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Iran hingga sejauh 24 mil laut. Langkah ini diyakini sebagai upaya proteksi hukum dan militer agar mereka tetap berada di bawah payung kedaulatan Teheran,” ungkap sumber di industri perkapalan.
Pertaruhan Risiko bagi Washington
Hingga saat ini, pemerintahan Presiden Donald Trump belum memberikan pernyataan resmi terkait mengapa belum ada tindakan penyitaan kapal tanker Iran. Berbeda dengan yang dilakukan terhadap kapal terkait Venezuela pada Desember lalu.
David Tannenbaum, direktur di konsultan Blackstone Compliance Services, menyatakan keterkejutannya atas absennya kampanye pencegatan oleh AS. Namun, para analis menilai AS sedang terjebak dalam dilema strategis.
Matias Togni dari Next Barrel berpendapat, upaya AS menyita tanker Iran bisa menjadi bumerang yang memicu serangan lebih brutal terhadap kapal-kapal lain di Selat Hormuz. Di sisi lain, selama Iran masih bisa menjual minyaknya, mereka memiliki alasan kuat untuk tidak menutup total selat tersebut dengan ranjau laut.
“Jika AS mulai menyita kapal tanker, hal itu akan mengurangi kerugian Iran jika selat tersebut akhirnya ditutup sepenuhnya. Selama mereka bisa lewat, mereka punya insentif menjaga selat tetap terbuka,” ujar James Lightbourn, pendiri Cavalier Shipping.
Persiapan sebelum Perang
Data menunjukkan Iran telah mengantisipasi serangan ini jauh-jauh hari. Pada pertengahan Februari, ekspor Iran bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sebesar 3,79 juta barel per hari. Saat ini, citra satelit menunjukkan aktivitas pemuatan minyak masih sangat sibuk di Pulau Kharg, titik ekspor utama Iran.
Meskipun enam kapal tanker yang meninggalkan Iran sejak akhir Februari berada dalam daftar sanksi AS, mereka tetap melenggang menuju pasar Asia. Hal ini membuktikan di tengah badai geopolitik, Iran berhasil mengamankan jalur logistiknya sendiri. Di saat yang sama, membiarkan dunia internasional bertarung dengan lonjakan harga energi akibat tersendatnya pasokan dari produsen lain.




