JAKARTA, KBKNEWS.id – Kemacetan parah di Jalan Tol Layang Mohammed Bin Zayed (MBZ) saat arus mudik Lebaran 2026 dipicu oleh kombinasi keterbatasan kapasitas jalan dan perilaku pengendara.
Direktur Utama PT Jasa Marga, Rivan Achmad Purwantono, menyebut jumlah kendaraan yang melintas tidak sebanding dengan kapasitas ruas tol yang tersedia.
Tol MBZ yang memiliki panjang 39 kilometer dirancang tanpa akses keluar (exit) dan hanya untuk kendaraan golongan I demi faktor keselamatan. Namun, sekitar 12 persen kendaraan yang melintas justru berasal dari golongan II ke atas.
Data menunjukkan, kelompok ini berkontribusi hingga 84 persen terhadap kecelakaan di ruas tersebut.
Selain overkapasitas, perilaku pengguna jalan turut memperburuk kondisi.
Mulai dari berhenti di bahu jalan, memaksakan masuk ke rest area, hingga kelelahan saat berkendara.
Petugas bahkan menemukan pengemudi yang tertidur di balik kemudi, yang berisiko memicu kecelakaan akibat microsleep.
Untuk mengurai kepadatan, berbagai rekayasa lalu lintas diterapkan, seperti contraflow dari satu hingga tiga lajur.
Bahkan, ruas tol lain seperti Cipularang dan Tol Japek II Selatan turut difungsikan guna mendukung kelancaran arus mudik.
Meski demikian, Jasa Marga menegaskan bahwa solusi kemacetan tidak hanya bergantung pada rekayasa lalu lintas.
Kesadaran dan kepatuhan pengguna jalan menjadi kunci utama. Ke depan, peningkatan kapasitas jalan serta penyelesaian proyek infrastruktur diharapkan dapat mengurangi potensi kemacetan serupa.





