JAKARTA, KBKNEWS.id – Pemerintah Indonesia memastikan adanya perkembangan positif terkait dua kapal tanker milik Pertamina yang sempat tertahan di Selat Hormuz.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyebut Iran telah memberikan respons baik atas permintaan Indonesia agar kapal tersebut dapat melintas dengan aman.
Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, mengatakan koordinasi intensif telah dilakukan sejak awal oleh Kemlu bersama Kedutaan Besar RI di Teheran dengan berbagai pihak di Iran guna menjamin keselamatan kapal.
“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran,” ujar Nabyl, dilansir Antara.
Menyusul respons tersebut, langkah tindak lanjut kini tengah dilakukan pada aspek teknis dan operasional oleh pihak-pihak terkait. Namun, Kemlu belum memastikan kapan tepatnya dua kapal tanker itu dapat keluar dari kawasan Selat Hormuz.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah telah menempuh jalur negosiasi untuk membebaskan kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) tersebut sejak awal Maret.
Meski sempat tertahan, pemerintah memastikan kondisi ini tidak mengganggu ketahanan energi nasional. Indonesia disebut telah menyiapkan alternatif pasokan energi dari negara lain sebagai langkah antisipasi.
Upaya diplomasi juga terus diperkuat. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto, menegaskan bahwa komunikasi dengan pemerintah Iran terus ditingkatkan demi memastikan keselamatan kapal dan awaknya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya memberikan izin melintas bagi kapal dari “negara sahabat”. Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang memiliki hubungan baik, bersama China, Rusia, India, Pakistan, Irak, serta Malaysia.
Situasi di Selat Hormuz sendiri masih menjadi perhatian global. Berdasarkan data pelacak kapal MarineTraffic, sekitar 1.900 kapal sempat tidak dapat bergerak di kawasan tersebut pada periode 20–22 Maret akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Perkembangan ini menjadi sinyal positif bagi Indonesia di tengah kekhawatiran terhadap stabilitas jalur distribusi energi dunia yang melewati salah satu jalur pelayaran terpenting tersebut.





