
Jakarta, KBKNews.id – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini merambah ke ranah privasi pejabat tinggi negara. Kelompok peretas yang berafiliasi dengan kepentingan Iran, yang dikenal dengan nama Handala, mengklaim telah berhasil membobol akun pribadi Direktur FBI, Kash Patel.
Pada Jumat waktu setempat, kelompok ini mempublikasikan lebih dari 300 surat elektronik (email) dan sejumlah foto pribadi yang diduga milik pria yang baru menjabat sebagai pimpinan biro investigasi federal tersebut sejak awal 2025.
Motif Balas Dendam dan “Operasi Psikologis”
Aksi peretasan ini bukan tanpa alasan. Melalui situs resminya, Handala menyatakan pembocoran data ini merupakan bentuk pembalasan setelah FBI dan Departemen Kehakiman AS menyita beberapa situs mereka pekan lalu. Pemerintah AS menuduh kelompok tersebut hanyalah kedok bagi Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran untuk melancarkan operasi psikologis.
Dalam sebuah pernyataan resmi, juru bicara FBI mengonfirmasi adanya serangan tersebut. Namun demikia, mereka menekankan data yang dicuri bukanlah informasi rahasia negara yang bersifat terkini.
“FBI menyadari adanya aktor jahat yang menargetkan informasi email pribadi Direktur Patel, dan kami telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memitigasi risiko. Informasi yang dimaksud bersifat historis dan tidak melibatkan informasi pemerintah,” ujar juru bicara tersebut.
Isi Bocoran: Rekam Jejak Masa Lalu dan Foto Santai
Berdasarkan analisis terhadap data yang dirilis, email-email tersebut sebagian besar berasal dari periode 2010 hingga 2012, jauh sebelum Patel memegang posisi krusial di pemerintahan. Isinya mencakup korespondensi keluarga, tiket pesawat tahun 2022, hingga foto-foto yang belum pernah terungkap ke publik. Misalnya, potret Patel saat berwisata di Kuba, berpose dengan cerutu, hingga berdiri di samping mobil antik.
Meski data tersebut tampak “kuno,” para ahli keamanan siber menilai ini adalah strategi “simpanan” yang sengaja dikeluarkan di momen yang tepat.
“Tampaknya ini adalah sesuatu yang sudah mereka simpan lama. Aktor Iran sering kali menyimpan berbagai potongan data untuk digunakan saat ‘hari hujan’ (momen mendesak),” ujar Alex Orleans, kepala intelijen ancaman di Sublime Security.
Eskalasi Konflik Siber di Tengah Perang
Handala bukanlah pemain baru. Kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai vigilante pro-Palestina ini sebelumnya mengaku bertanggung jawab atas serangan siber destruktif terhadap pemasok teknologi medis AS, Stryker. Mereka menyebut aksi tersebut sebagai balasan atas serangan militer yang memakan korban jiwa di wilayah Iran.
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS tidak tinggal diam dengan menawarkan imbalan hingga 10 juta USD (sekitar Rp158 miliar) bagi siapa saja yang memiliki informasi terkait peretas Iran yang mengancam infrastruktur kritis Amerika.
Peringatan bagi Pejabat Publik
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para pejabat tinggi mengenai kerentanan akun pribadi. Meskipun layanan perbankan dan operasional FBI tetap berjalan normal, bocornya komunikasi pribadi tetap menjadi alat propaganda yang kuat dalam perang siber modern.
Handala sendiri sempat menebar ancaman di saluran Telegram mereka sebelum akun tersebut dihapus. Mereka memperingatkan, FBI “seharusnya tidak memulai konfrontasi” dan menjanjikan bocoran yang lebih besar di masa depan.




