BAGI yang ingin menyaksikan ending perang dari sisi menang-kalah, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mungkin dianggap anti klimaks, tapi seluruh masyarakat yang cinta damai pasti menyambutnya dengan suka cita.
Amerika Serikat dan Iran resmi menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada Rabu (8/4).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump, Minggu (5/4) lalu memberikan ultimatum 3 x 24 jam pada Iran untuk membuka Selat Hormuz.
Jika tidak, kekuatan militer AS akan mengembalikan Iran ke Zaman Batu (menghancurkan seluruh sarana dan prasarana di negeri itu-red).
Sehari sebelum deadline berakhir yakni Selasa, 7 April pukul 20.00 Eastern Time atau Rabu (8/4) pukul 07.00 pagi WIB (selisih 11 jam) Presiden Trump kembali memperingatkan Iran, akan menciptakan neraka, membuat negara itu tanpa jembatan dan energi lagi (akan dimusnahkan-red).
Alih-alih menyerah, Iran tak bergeming, bahkan menantang balik, akan menghancurkan seluruh fasilitas AS di Timur Tengah, dan terus meluncurkan rudal-rudal dan drone serangnya ke titik-titik tersebut, juga ke berbagai wilayah di Israel.
Peran China
Di balik kesepakatan gencatan senjata itu, China selain Pakistan disebut memainkan peran terselubung, mendorong Iran menempuh jalur negosiasi.
Hal ini turut dikonfirmasi oleh Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan AFP, Rabu (8/4).
“Saya dengar ya,” kata Trump ketika ditanya apakah Beijing terlibat dalam upaya membujuk Iran untuk bernegosiasi, “ tuturnya.
CNNI dalam laporannya (8/4) mengonfirmasi, AS dan Iran sepakat menerapkan gencatan senjata selama dua pekan pada Rabu (8/4) setelah berperang sejak 28 Februari lalu.
Gencatan senjata dicapai setelah Presiden Donald Trump sepakat menunda serangan terbaru AS ke Iran selama dua pekan dengan imbalan Teheran yang akan mulai membuka Selat Hormuz.
Sementara itu, Menlu Iran Abbas Arraghchi menegaskan bahwa “jika serangan terhadap Iran dihentikan, AB Iran yang kuat juga akan menghentikan operasi defensifnya.”
Araghchi juga menuturkan pembukaan Selat Hormuz menjadi alur pelayanan aman selama dua minggu periode gencatan senjata akan dikoordinasikan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis.
Namun, pembukaan jalur itu, menurut dia, tidak sepenuhnya otomatis dan masih bergantung pada ketentuan dalam kesepakatan gencatan senjata.
Sementara itu, dilansir Gulf News, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (DKNT) Iran menyebut kesepakatan Iran soal gencatan senjata bersifat “bersyarat”, yakni kedua pihak harus menghentikan operasi ofensif dan mengedepankan penyelesaian diplomatik.
Hal itu, kata DKNT, dilakukan sebagai upaya meredakan ketegangan serta memastikan kembali berfungsinya jalur pelayaran strategis itu.
Pejabat Iran juga menegaskan dialog akan terus berlanjut selama gencatan senjata guna meredakan ketegangan dan membuka ruang negosiasi. Bagi Iran, tercapainya gencatan senjata menganggap pihaknya telah memenangkan konfrontasi melawan AS dan Israel.
Narasi yang berkembang di dalam negeri Iran menunjukkan mereka merasa memegang kendali atas situasi dan mulai menetapkan persyaratan damai.
Iran dianggap pemenang karena berhasil bertahan meskipun menghadapi serangan udara terkoordinasi dari AS dan Israel sejak 28 Feb. sampai hari ke 40 (8/4).
Iran mengklaim berhasil melakukan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Timur Tengah dan sejumlah wilayah di Israel serta dianggap mampu menanggung beban konflik (derita perang).
Sebaliknya nilai prositif bagi Trump baik dalam konteks politik dalam negeri maupun geopolitik global.
Gencatan senjata selama dua minggu, yang dimediasi oleh Pakistan, memungkinkan Trump untuk menghentikan ancaman konflik militer besar-besaran (serangan terhadap infrastruktur Iran) tanpa terlihat lemah. Ini akan menempatkan citra Trump sebagai pemimpin yang mampu menggunakan “kekuatan ekstrem” sekaligus diplomasi untuk mencapai tujuan.
Trump dapat menarasikan gencatan senjata ini sebagai keberhasilan kebijakannya yang tegas (“peace through strength”) yang memaksa Iran kembali ke meja perundingan.Ini memungkinkannya menghindari perang “tanpa akhir” yang tidak populer di mata pemilih AS.
Kesepakatan ini menekan harga minyak dunia yang sempat melonjak akibat memanasnya konflik, dan membuka kembali Selat Hormuz.
Hal ini berdampak positif bagi ekonomi global dan mengurangi beban ekonomi dalam negeri AS.
Dengan membatalkan serangan militer berskala besar (yang berisiko merusak peradaban atau memicu perang regional yang berkepanjangan), Trump terhindar dari komitmen militer jangka panjang yang mahal dan berisiko tinggi di Timur Tengah.
Gencatan senjata ini, meski sementara, memberikan waktu untuk memfinalisasi kesepakatan komprehensif, di mana AS bertujuan mengekang kemampuan nuklir Iran, dan last but not least, kesepakatan ini meredakan tekanan publik di AS yang menentang perangnya Trump. (CNNI/AFP/Gulfnews/AI)





