KAIRO, KBKNews.id – Zohar Regev kembali akan bergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) 2026. Dia bukanlah sosok baru dalam perjuangan mendukung kemerdekaan Palestina.
Aktivis senior yang dikenal karena keberaniannya ini kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan aktivis kemanusiaan internasional. Namanya sempat mencuat tahun lalu saat terlibat dalam misi kemanusiaan gabungan Freedom Flotilla Coalition) dan di mana ia menunjukkan keteguhan prinsip yang luar biasa di hadapan tekanan otoritas.
Dia lahir dari keluarga Yahudi Palestina yang tinggal di Jerman. Perempuan berusia 78 tahun itu mendapat hidayah Islam lalu mendukung penuh kemerdekaan Palestina.
Pada 2025, Zohar menjadi salah satu aktivis terakhir yang dibebaskan oleh pihak keamanan Israel. Alasan penahanannya yang lama bukan tanpa sebab. Dia dengan tegas menolak untuk menandatangani surat pengakuan yang menyatakan bahwa dirinya telah melakukan pelanggaran wilayah.
Baginya, misi kemanusiaan bukanlah sebuah kejahatan, dan ia menolak untuk mengkriminalisasi niat baiknya demi kebebasan instan.
Meski usianya sudah senja, semangatnya tidak menunjukkan tanda-tanda meredup. Sebagai seorang Yahudi Israel yang kini menetap di Jerman, ia membawa perspektif unik dalam perjuangannya. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk bersuara menentang kebijakan penindasan yang dilakukan atas nama identitasnya.
Kini, Zohar Regev bersiap untuk kembali melaut. Ia telah mengonfirmasi keikutsertaannya dalam misi besar berikutnya, yaitu Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0. Ini bukan kali pertama ia terlibat dalam pengorganisasian armada kapal; tercatat sejak tahun 2012.
Dia telah mendedikasikan hidupnya untuk membantu mengoordinasikan bantuan laut guna menembus blokade yang mencekik wilayah Gaza.
“Misi ini sangat penting karena menunjukkan bahwa masyarakat sipil tidak menerima pengepungan ilegal dan mematikan di Gaza,” ujar Zohar dalam keterangan video seperti dilihat, Senin (11/5/2026).
Dia menekankan bahwa gerakan ini muncul dari rasa muak terhadap sikap abai komunitas internasional. Di mata Zohar, ketika diplomasi formal menemui jalan buntu, maka kekuatan moral rakyatlah yang harus bergerak maju.
Kehadiran Zohar dalam misi GSF 2.0 diharapkan mampu menginspirasi generasi muda aktivis di seluruh dunia. Dengan latar belakangnya sebagai warga keturunan Israel yang menetap di Eropa, ia menjadi jembatan pesan bahwa solidaritas terhadap Palestina adalah isu kemanusiaan universal yang melampaui batas agama, kebangsaan, maupun usia.
Kini dunia kembali menanti keberangkatan armada tersebut. Zohar Regev dan rekan-rekannya di GSF 2.0 membawa misi untuk membawa bantuan medis dan pangan, sekaligus membawa harapan bahwa laut yang memisahkan Gaza dari dunia luar suatu saat akan menjadi jalur kebebasan bagi rakyat di sana. Perjuangan Zohar adalah bukti nyata bahwa usia hanyalah angka dalam kamus perlawanan terhadap ketidakadilan.





