JAKARTA – Di tengah perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-71, jauh dari Tanah Air di tengah laut lepas, Muhammad Sofyan (28) meraih kebebasannya. Dia mempertaruhkan nyawa demi lepas dari cengkeraman Abu Sayyaf yang menyanderanya di Kepulauan Sulu, selatan Filipina. Pilihannya kabur atau tidak sama sekali. Berenang di laut lepas pun dipilih sebagai cara pelaut asal Indonesia ini demi bisa menghirup udara bebas, lepas dari jerat simpatisan ISIS tersebut.
Anak buah kapal TB Charles itu menyusun rencana pelarian. Sofyan kabur, demikian dengan Ismail pada Selasa (16/8) malam. Namun karena waktu pelarian keduanya berbeda, kabar Ismail sampai sekarang belum diketahui. Sofyan, berdasarkan laporan Inquirer, terus berlari dan berlari menuju tepi pantai. Sofyan kabur dengan cara berenang menyusuri perairan dangkal di sela hutan bakau antara Barangay Bual dan Bato-Itum, Kepulauan Sulu.
Rabu (17/8) pagi pukul 07.32 waktu setempat, karena kelelahan tubuh Sofyan tersangkut di jala nelayan lokal. Warga kemudian membawanya ke kantor polisi untuk mendapat pertolongan. Sofyan yang sehari-hari tinggal di Takalar, Sulawesi Selatan, kini telah berada dalam perlindungan polisi Filipina.
“Sandera berlari, kemudian berenang ke laut,” kata Mayor Filemon Tan, juru bicara militer Filipina seperti dilansir Reuters (18/08/16).
Namun sampai dengan saat ini tentara Filipina belum mengetahui kondisi enam sandera pelaut Indonesia yang masih ditawan.
“Kami sedang mengerahkan sumber daya untuk memantau dan menyelamatkan sandera lainnya,” kata Tan.
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi telah berkoordinasi dengan Menlu Filipina Perfecto Yasay untuk evakuasi Sofyan. Tim dari KBRI Manila dan KJRI Davao sudah berada di Zamboanga City guna mengawal proses pemulangan sang pelaut pemberani itu.
Sri Dewi, istri Sofyan yang kini berada di Takalar, sudah menerima kabar keberhasilan suaminya kabur dari Abu Sayyaf.
“Gembira karena sudah dengar kabarnya. Mau dua bulan baru ada kabar,” kata Dewi.
Sofyan adalah satu dari tujuh awak kapal Charles milik PT Rusianto Bersaudara yang ditawan sejak 23 Juni lalu. Mereka diculik oleh faksi Abu Sayyaf pimpinan Al Habsy Misaya. Para teroris itu menuntut tebusan 250 juta Peso.





