Dompet Dhuafa Kembangkan Masjid Al Muttaqin sebagai Pusat Pembinaan Muslim di Jepang

JAKARTA, KBKNEWS.id – Dompet Dhuafa tengah mengembangkan Masjid Al Muttaqin di Chiba, Jepang, sebagai Mualaf and Islamic Cultural Center guna menyediakan ruang ibadah sekaligus pusat pembinaan bagi komunitas Muslim di tengah lingkungan minoritas.

Inisiatif tersebut lahir dari kebutuhan akan ruang sosial yang aman dan nyaman bagi anak-anak Muslim serta para mualaf agar tetap memiliki lingkungan yang mendukung dalam menjalankan ajaran Islam.

Selama bertahun-tahun, komunitas Muslim di Chiba mengandalkan taman kota dan ruang publik untuk melaksanakan kegiatan keagamaan, termasuk Salat Id yang dihadiri ratusan jemaah dari berbagai negara.
Namun, kondisi tersebut semakin sulit dilakukan. Seiring meningkatnya regulasi terkait penggunaan fasilitas publik dan dinamika isu warga asing di Jepang, komunitas Muslim harus mencari alternatif tempat ibadah yang lebih permanen.

Pimpinan Dompet Dhuafa Cabang Jepang, Ahmad Firman Wahyuni, mengatakan pemerintah setempat kini semakin ketat dalam mengatur penggunaan fasilitas publik sehingga komunitas Muslim harus menyewa gedung milik pemerintah untuk melayani kebutuhan ibadah jemaah.

“Pemerintah Jepang kini semakin ketat terkait penggunaan fasilitas publik. Kami harus menyewa ruangan milik pemerintah untuk melayani jemaah, dan prosesnya tidak mudah karena harus bersaing dengan pihak lain serta membutuhkan biaya yang cukup besar,” ujar Ahmad Firman.

Menurutnya, tantangan juga muncul ketika terdapat perbedaan penetapan Hari Raya di kalangan umat Islam. Pada Idulfitri 2026, komunitas Muslim di Chiba bahkan harus menggelar Salat Id di dua lokasi berbeda agar seluruh jemaah dapat terfasilitasi.

“Untuk Idulfitri kemarin kami melaksanakan dua kali Salat Id di gedung yang berbeda. Yang pertama yang ikut Muhammadiyah dan yang hari kedua yang ikut keputusan Hasil Sidang Isbat Jepang. Beruntung dua hari kami bisa menyewa gedung. Jika nanti ada kesepakatan yang sama, kami akan kesulitan mencari tempat karena tidak boleh menggunakan fasilitas publik,” katanya.

Selain kebutuhan tempat ibadah, Dompet Dhuafa juga menyoroti tantangan pembinaan generasi muda Muslim di Jepang. Ahmad mengungkapkan adanya data yang menunjukkan lebih dari 80 persen anak Muslim generasi kedua di Jepang meninggalkan Islam saat memasuki usia dewasa.

“Kami perlu menghadirkan Masjid Al Muttaqin Chiba sebagai Mualaf and Islamic Cultural Center untuk menyelamatkan akidah anak-anak Muslim yang lahir dan besar di Jepang. Ada data yang menyebutkan bahwa lebih dari 80 persen anak-anak second generation meninggalkan Islam ketika memasuki usia 20 tahun di Jepang,” ujarnya.

Menurut Ahmad, kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas pendidikan dan lingkungan sosial yang sangat padat, sehingga anak-anak Muslim lebih banyak berinteraksi dengan budaya setempat dibandingkan dengan lingkungan keislaman.

Karena itu, pembangunan Masjid Al Muttaqin tidak hanya ditujukan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan, pendidikan, dan penguatan identitas keislaman bagi komunitas Muslim di Jepang.

Melalui fasilitas tersebut, Dompet Dhuafa berharap dapat menghadirkan solusi jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai Islam di kalangan generasi muda dan para mualaf di Negeri Sakura.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here