Di TENGAH narasi pemerintah soal fundamental ekonomi Indonesia yang berulang kali disebutkan masih solid, pasar menunjukkan sinyal sebaliknya.

Nilai tukar rupiah, dalam perdagangan, Senin (8/6) terperosok hingga Rp 18.200 per dollar AS, sementara IHSG ambruk lebih dari empat persen.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan: jika ekonomi masih kuat, mengapa aset-aset Indonesia justru terus ditinggalkan pasar? Pelemahan rupiah dan kejatuhan pasar saham terjadi secara bersamaan ketika investor global meningkatkan kewaspadaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Nilai tukar rupiah di pasar spot terus tertekan pada perdagangan Senin (8/6). Hingga pukul 13.48 WIB, mata uang Rupiah terdepresiasi 165 poin atau 0,91 persen ke level Rp 18.201 per dollar AS.

Kurs rupiah memang melemah sejak pembukaan perdagangan hari ini, sebelumnya makin terperosok lebih dalam, kurs rupiah sempat bertengger di posisi Rp 18.170 per dollar AS atau terkoreksi 134 poin, setara 0,75 persen.

Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 242,16 poin atau 4,33 persen ke area 5.352,61, mendekati posisi terendah di 5.346,34.

Penurunan ini terjadi tak berselang lama pembukaan pasar sesi kedua, Senin siang ini. Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai tekanan yang terjadi saat ini tidak semata-mata dipicu arus keluar dana asing, melainkan juga meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia atau country risk.

Tekanan yang terjadi pada pasar keuangan menunjukkan investor mulai memberikan premi risiko yang lebih tinggi terhadap Indonesia.

Kondisi itu dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit fiskal, terutama karena pemerintah belum melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah berbagai tekanan anggaran. Persepsi risiko tersebut tercermin dari pergerakan pasar obligasi.

Selisih atau spread imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat kini melebar hingga sekitar 2,5 persen.

Hal itu membuat aset keuangan Indonesia harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik minat investor, sekaligus menunjukkan pasar meminta kompensasi lebih besar atas risiko yang mereka lihat di Indonesia.

“Secara country risk kita sedang dihukum karena potensi fiskal yang melebar defisitnya, seiring tidak adanya penyesuaian harga BBM. Kami melihat selisih yield obligasi 10 tahun Indonesia dan AS makin melebar berada pada level 2,5 persen dan hal tersebut menjadi ‘karpet merah’ untuk investor asing melakukan aksi inflow,” ujar Farus ketika dihubungi Kompas.com, Senin ini.

Situasi agaknya memang tidak sedang baik-baik saja, sehingga dibutuhkan transparansi oleh para pejabat terkait, bukan menyederhanakan masalah, selain melakukan aksi nyata, tidak sekedar omon-omon. (Kmpas.co/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here