Menyala dari Kegelapan

Yudi Latif (Foto: Ilustrasi)
Saudaraku, Indonesia akan terus menjadi ajang mainan kekuatan proksi kapitalis global dan lokal karena alasan yang bersifat perenial. Di satu sisi, bangsa ini tak pernah surut mereproduksi para pengkhianat. Di sisi lain, mereka yang lantang memperjuangkan kedaulatan dan kemandirian nasional kerap tak menunjukkan kompetensi dan konsistensi.
Dalam keterperangkapan seperti itu, bangsa Indonesia seakan berdiri di tepi jurang, dan yang tampak di hadapannya hanyalah kegelapan. Harapan terasa seperti kemewahan, sementara keputusasaan tampak lebih masuk akal daripada keyakinan. Pandu-pandu bangsa tak lagi mampu membedakan antara malam yang panjang dan malam yang tak menemukan fajar.
Namun sejarah dunia sesungguhnya tak mengecualikan Indonesia sendirian. Betapa limpah kisah tentang bangsa-bangsa yang pernah rebah di titik terendah, lalu perlahan menemukan jalan kembali menuju terang.
Jepang pernah hancur sepenuhnya setelah perang. Kota-kotanya rata oleh bom, ekonominya lumpuh, rasa percaya dirinya runtuh. Namun kebangkitannya tidak dimulai dari mukjizat, melainkan dari disiplin kolektif yang panjang: reformasi pendidikan dan etos kerja yang dibangun ulang, hubungan erat antara negara dan industri, serta budaya kualitas yang menolak keteledoran. Mereka membangun kembali bukan hanya infrastruktur, tetapi cara bekerja dan cara berpikir.
Jerman juga bangkit dari kehancuran fisik dan moral. Mereka melakukannya dengan langkah yang berat: mengakui kesalahan masa lalu, memutus jaringan ideologi lama melalui denazifikasi, serta membangun institusi ekonomi dan politik yang menekankan stabilitas dan kepercayaan. Mereka tidak lari dari sejarah, tetapi menatapnya sebagai syarat untuk bisa melanjutkan hidup.
China keluar dari kekacauan panjang Revolusi Kebudayaan melalui perubahan kebijakan yang tegas dan bertahap: membuka diri pada reformasi ekonomi, memperkenalkan mekanisme pasar secara terkontrol, membangun zona ekonomi khusus, serta mengirim jutaan orang untuk belajar kembali keterampilan dasar pembangunan. Mereka tidak menunggu sistem sempurna—mereka memperbaikinya sambil berjalan.
Karena itu, pekerjaan terbesar Indonesia bukan sekadar melahirkan pemimpin yang baik, melainkan membangun manusia dan institusi yang sekaligus berkarakter, cakap, dan konsisten. Sebab hanya dengan itulah ruang bagi pengkhianatan dapat dipersempit, sementara cita-cita kedaulatan memiliki peluang untuk benar-benar diwujudkan.
Namun sejarah selalu menyimpan satu kemungkinan yang tak pernah hilang: tidak ada bangsa yang ditakdirkan selamanya berada dalam kegelapan. Bahkan dari malam yang paling panjang sekalipun, fajar selalu menemukan jalan untuk terbit kembali. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia dapat menemukan terang, melainkan apakah kita bersedia menyiapkan manusia dan institusi yang mampu menyambut kedatangannya.
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here