Cara Meraih Kekuatan Jiwa dalam Mengarungi Kehidupan

Ilustrasi sajadah (Foto: Ist)
JAKARTA, KBKNews.id – Dalam mengarungi kehidupan di dunia, manusia sering kali tertipu oleh definisi kekuatan. Banyak yang mengira bahwa kekuatan sejati berada pada fisik yang kekar, harta yang melimpah, raga yang sehat, atau jabatan yang tinggi.
Namun, Islam mengajarkan bahwa kekuatan yang hakiki tidak terletak pada raga atau jasad, melainkan bersumber dari kedalaman hati, jiwa yang kokoh, serta ketawakalan yang penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa betapa pun gagah dan besarnya fisik seseorang, jika jiwanya rapuh, ia akan mudah tumbang saat diterpa ujian hidup. Sebaliknya, raga yang lemah atau bahkan cacat sekalipun, jika dibersamai dengan jiwa yang sareh (tenang), sumeh (senyum/ceria), dan sumeleh (pasrah/tawakal), akan tetap kokoh dan mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Tiga Ayat Al-Qur’an Penenteram Jiwa

Seorang ulama tabiin, Amir bin Qais rahimahullah, pernah memberikan nasihat yang sangat berharga. Beliau mengatakan bahwa ada tiga ayat di dalam Kitabullah (Al-Qur’an) yang jika seseorang benar-benar mempelajari, membaca, dan merenungkan maknanya, maka ia tidak akan lagi merasa butuh atau bergantung kepada seluruh makhluk.
Ketiga ayat tersebut menjadi dalil utama bagi setiap muslim untuk membangun jiwa yang tenang dan kokoh:
1. Surat Yunus Ayat 107 (Keyakinan bahwa Hanya Allah yang Menghilangkan Bahaya)
“Dan jika Allah menimpakan sesuatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya…”
Hikmah: Ayat ini menanamkan keyakinan bahwa segala bentuk ujian hidup—baik berupa penyakit, kemiskinan, maupun gangguan dari manusia—tidak akan bisa diangkat oleh siapa pun kecuali oleh Allah. Sebaliknya, jika Allah sudah menghendaki kebaikan, tidak ada satu makhluk pun yang mampu menghalanginya.
2. Surat Fatir Ayat 2 (Segala Karunia Berada di Tangan Allah)
“Apa saja yang Allah bukakan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Hikmah: Ayat ini mendidik kita untuk memahami bahwa hidup, mati, sehat, sakit, untung, dan rugi semuanya mutlak berada di bawah pimpinan Allah. Jika Allah telah membukakan pintu rahmat-Nya, tidak ada makhluk yang bisa menutupnya.
3. Surat Hud Ayat 6 (Jaminan Rezeki dari Allah)
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat bersemayam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”
Hikmah: Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk yang bernyawa di atas bumi ini. Rezeki yang sudah digariskan untuk kita tidak akan pernah tertukar atau lepas, bahkan meski ia berada di dasar lautan yang paling dalam dan gelap sekalipun.

Kisah Keteguhan Hati Imam Abul Hasan Azzahid

Untuk menggambarkan buah dari tawakal yang matang ini, terdapat sebuah kisah luar biasa tentang seorang ulama bernama Imam Abul Hasan Azzahid. Beliau hidup pada masa penguasa Mesir yang sangat kejam dan bengis bernama Ahmad bin Tulun, yang tercatat telah membunuh ribuan manusia dengan keji.
Demi menjalankan perintah Nabi untuk menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim (Afdhalul jihad kalimatul haqqin ‘inda sultonin jair). Imam Abul Hasan mendatangi sang penguasa secara empat mata untuk menasihatinya. Ahmad bin Tulun yang murka kemudian memerintahkan prajuritnya untuk melepaskan seekor singa yang kelaparan agar menerkam sang ulama.
Di hadapan singa yang mengerang bersiap menerkam, Imam Abul Hasan duduk dengan sangat tenang tanpa bergerak sedikit pun. Keajaiban pun terjadi karena kuasa Allah; singa tersebut maju mundur, lalu justru mendekat untuk mengendus dan menjilati kaki sang ulama dengan lembut.
Saat Ahmad bin Tulun yang kebingungan bertanya apa yang dipikirkan sang ulama ketika berhadapan dengan singa tersebut, Imam Abul Hasan menjawab dengan tenang: “Aku sama sekali tidak berpikir akan mati diterkam singa. Aku justru sedang berpikir dan merenungkan, apakah air liur singa yang menjilati kakiku ini najis atau tidak sesuai hukum fiqih.”
Inilah bukti nyata dari firman Allah dalam Surat Az-Zumar ayat 36: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?”.

Kesimpulan

Tawakal bukan berarti berdiam diri tanpa usaha. Islam memerintahkan kita untuk tetap berikhtiar dengan maksimal, namun menggantungkan seluruh hasil akhir hanya kepada Allah. Ketika seorang hamba berhasil menanamkan tiga dalil Al-Qur’an di atas ke dalam hatinya, maka ia akan dianugerahi sakinatul qolbi (ketenteraman hati), terbebas dari rasa iri dan dengki, memiliki harga diri yang mulia tanpa perlu mengemis kepada makhluk, serta berpeluang meraih jalur prestasi tertinggi menuju surga.
Disarikan dari ceramah Ustaz Abul Aswad Al-Bayaty di kanal Youtube Ngangsu Kawruh.
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here