
JAKARTA – KBKNEWS – ISRAEL adalah pihak yang paling kesal atas tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang naskahnya akan ditandatangani di Jenewa, Swiss, Jumat pekan ini (19/6).
Pasalnya, Israel menginginkan, Iran yang dianggapnya bakal terus mengembangkan kekuatan nuklir adalah ancaman nyata bagi eksistensi negara itu. Israel juga menganggap, sepak terjang milisi proksi Iran yakni Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza harus dihentikan karena jika tidak, keamanan dan kedaulatan negara Yahudi itu terancam.
Oleh sebab itu, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir menegaskan negaranya akan terus menggempur Lebanon, terlepas dari kesepakatan yang mengharuskan semua pertempuran dihentikan, termasuk di Lebanon.
Dalam pernyataan di channel Telegram pada Senin (15/6), Ben Gvir menyampaikan kesepakatan yang diumumkan Presiden AS Donald Trump tidak mengikat Israel yang mmng tidak terlibat dalam perundingan.
“Kesepakatan Trump tidak mengikat kami … Kami bukan pihak dalam kesepakatan ini. Kesepakatan ini tidak menjamin keamanan kami,” kata Ben Gvir seperti dikutip AFP.
Ben Gvir mengatakan Israel tidak boleh merasa aman sebelum kelompok milisi Hizbullah Lebanon dibubarkan.
“Kita tidak boleh mundur dari sejengkal pun wilayah yang telah direbut dan dibersihkan dari infrastruktur teroris oleh tentara kita,” ucap Ben Gvir.
Pada Minggu (14/6), Trump mengumumkan bahwa perundingan kesepakatan antara AS dan Iran telah selesai. Kesepakatan damai kedua negara akan diteken secara resmi di Swiss, Jumat (19/6).
Bersamaan waktunya, Presiden Trump juga mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormus (19/6) sesuai dengan kebebasan bernavigasi yang datur dalam Konvensi Hukum Laut TPBB (UNCLOS) 1982.
Iran telah mengonfirmasi soal kesepakatan ini. Menurut kantor berita Iran Mehr, ada 14 poin nota kesepahaman, di antaranya yakni menghentikan pertempuran di semua front, termasuk Lebanon.
Hingga kini, belum ada rincian kesepakatan resmi yang diumumkan kedua pihak.
Genderang perdamaian telah ditabuh, tinggal menyelesaikan persoalan teknis yang perlu dituntaskan, dan tahap selanjutnya, bagaimana meyakinkan Israel agar Iran dan proksi-proksinya bukanlah ancaman lagi. (AFP/CNN/Mehr/ns)




