JAKARTA, KBKNews.id – Ilmu merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada manusia. Dengan ilmu, kedudukan seorang hamba dapat diangkat baik di dunia maupun di akhirat.
Namun, tidak semua ilmu yang dimiliki manusia mendatangkan keberkahan. Esensi sejati dari menuntut ilmu dalam Islam bukanlah sekadar menimbun wawasan atau meraih gelar akademik, melainkan bagaimana ilmu tersebut dapat menjadi “ilmu yang bermanfaat” (ilmun nafi’), yaitu ilmu yang membuahkan amal shaleh dan mendekatkan diri kepada sang Pencipta.
Keberkahan ilmu ditandai dengan adanya perubahan positif pada diri pemiliknya. Ketika seseorang memiliki ilmu yang berkah, hatinya akan dipenuhi rasa takut kepada Allah (khosyyah), ibadahnya menjadi lebih khusyuk, dan akhlaknya terhadap sesama manusia menjadi lebih mulia. Sebaliknya, ilmu yang tidak berkah hanya akan melahirkan kesombongan, perdebatan yang sia-sia, dan keinginan untuk dipuji oleh makhluk. Oleh karena itu, memahami tanda-tanda dan cara meraih keberkahan ilmu adalah hal yang sangat krusial bagi setiap muslim.
Dalil utama mengenai pengangkatan derajat orang yang berilmu ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu yang disandingkan dengan keimanan akan menghasilkan kedudukan yang mulia. Derajat yang tinggi ini didapatkan karena ilmu tersebut membimbing pemiliknya pada ketakwaan.
Ciri utama dari orang yang memiliki ilmu bermanfaat adalah munculnya rasa takut yang mendalam kepada Allah. Semakin banyak ia belajar tentang syariat, keagungan, dan kekuasaan Allah, semakin ia merasa kecil dan tunduk di hadapan-Nya. Hal ini sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Surat Fathir ayat 28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa semakin sempurna makrifat (pengenalan) seseorang kepada Allah, maka rasa takutnya kepada Allah akan semakin besar dan mendalam.
Selain membuahkan rasa takut, ilmu yang bermanfaat juga merupakan investasi jangka panjang yang pahalanya tidak akan pernah terputus meskipun pemiliknya telah meninggal dunia. Ketika seseorang mengajarkan suatu kebaikan atau menulis kitab yang mengalirkan manfaat bagi generasi setelahnya, ia akan terus menerima kiriman pahala di alam kubur. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis riwayat Muslim:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوهُ
“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Namun, ada sebuah fenomena yang patut diwaspadai, yaitu keberadaan ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu jenis ini hanya berhenti di tenggorokan dan tidak meresap ke dalam hati menjadi sebuah amalan. Pemiliknya mengetahui mana yang halal dan haram, namun tetap melanggarnya demi kepentingan duniawi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sering memohon perlindungan dari ilmu yang seperti ini melalui doa yang beliau panjatkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa dan tidak dikabulkan.” (HR. Muslim no. 2722)
Untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, niat yang ikhlas memegang peranan yang paling sentral. Seorang penuntut ilmu harus membersihkan hatinya dari tujuan-tujuan duniawi, seperti ingin didebat, ingin terlihat pintar di mata manusia, atau mencari harta. Niat utama dalam menuntut ilmu haruslah untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri serta orang lain, serta demi meraih keridhaan Allah semata. Jika niatnya melenceng, ilmu tersebut justru bisa menjadi bumerang yang menyeret pemiliknya ke dalam ancaman siksa api neraka.
Keberkahan ilmu juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana ilmu tersebut diamalkan. Mengamalkan ilmu adalah bentuk zakat dan kesyukuran atas nikmat pemahaman yang telah Allah berikan. Para ulama terdahulu sering mengatakan bahwa ilmu adalah pemicu amalan; jika ilmu diamalkan, maka ilmu tersebut akan menetap dan bertambah kuat, tetapi jika tidak diamalkan, ilmu tersebut akan pergi dan lenyap dari ingatan. Ilmu yang diamalkan secara konsisten, meskipun sedikit, jauh lebih berkah daripada ilmu seluas samudra yang hanya menjadi teori belaka.
Selain itu, keberkahan ilmu juga berkaitan erat dengan adab. Seorang penuntut ilmu wajib menghormati guru yang telah menyalurkan ilmu kepadanya serta memuliakan majelis ilmu. Tanpa adab yang baik, keberkahan ilmu akan dicabut sehingga ilmu tersebut tidak memberikan ketenangan batin bagi pemiliknya. Menjaga lisan dari menggibah ulama, bersikap rendah hati (tawadhu’), dan tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan suatu masalah hukum adalah bagian dari adab penting yang harus dijaga oleh setiap muslim.
Sebagai kesimpulan, ilmu yang bermanfaat adalah modal utama untuk meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat. Keberkahannya tidak diukur dari seberapa banyak hafalan atau argumen yang bisa kita sampaikan, melainkan dari seberapa besar dampaknya dalam memperbaiki kualitas penghambaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita terus berdoa dan berusaha agar setiap bait ilmu yang kita pelajari dapat menancap kuat di dalam dada, mewujud dalam amal nyata, dan menjadi pembuka jalan menuju surga-Nya.
Disarikan dari ceramah berjudul “Berkahnya Ilmu yang Bermannfaat” oleh Ustaz Ahmad Van der Pool, Lc., MA di Youtube Yufid TV.





