Makin Besar, Porsi Pendapatan Digunakan untuk Konsumsi

Survei pengeluaran konsumen BI menunjukkan, porsi penghasilan untuk digunakan membeli barang-barang konsumsi pada medio 2026 terus naik, sementara porsi penghasilan untuk ditabung terus menurun. (ilustrasi: stok)

JAKARTA, (KBKNEWS) – 8/7 KONDISI keuangan rumah tangga Indonesia pada medio 2026 memperlihatkan dua gambaran yang berjalan bersamaan.

Di satu sisi, masyarakat masih yakin, kondisi ekonomi masih berada pada zona optimistis, namun disisi lain, semakin besar porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi diiringi menurunnya porsi pendapatan yang ditabung.

Gambaran tersebut tercermin dalam Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) edisi Juni 2026 yang dirilis dan dilansir Kompas.com, Rabu (8/7).

Hasil survei menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada pada level optimistis, yakni 117,8 atau berada di atas ambang batas 100, meski lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 120,9.

Optimisme konsumen tetap ditopang oleh persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ekonomi enam bulan mendatang yang masih sama-sama berada pada zona optimistis.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 109,2, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) berada di level 126,4.

Kedua indikator tersebut memang mengalami penurunan dibandingkan Mei 2026, tetapi tetap menunjukkan pandangan positif publik terhadap kondisi ekonomi.

Meski demikian, bila melihat lebih dalam pada kondisi keuangan rumah tangga, terdapat perubahan dalam cara masyarakat mengalokasikan pendapatannya.

Naik, porsi pendapatan untuk konsumsi
Porsi konsumsi semakin besar Data BI menunjukkan rata-rata proporsi pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk konsumsi meningkat pada Juni 2026.

Rasio konsumsi terhadap pendapatan atau average propensity to consume ratio tercatat sebesar 73 persen.

Angka tersebut naik dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 72,3 persen. Sebaliknya, proporsi pendapatan yang disimpan mengalami penurunan.

Rasio tabungan terhadap pendapatan (saving to income ratio) turun menjadi 17 persen dari sebelumnya 17,5 persen.

Di sisi lain, proporsi pembayaran cicilan atau utang terhadap pendapatan (debt installment to income ratio) relatif stabil di level 10 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 10,2 persen.

Dengan demikian, perubahan utama yang terjadi pada Juni bukan berasal dari peningkatan beban cicilan, melainkan dari bertambah besarnya porsi pendapatan yang dialokasikan untuk konsumsi sehingga ruang untuk menabung menjadi lebih kecil.

Tidak semua kelompok mengalami pola yang sama Perubahan perilaku keuangan tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh kelompok pendapatan.

Survei BI mencatat proporsi konsumsi terhadap pendapatan meningkat pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta per bulan menjadi 75,2 persen.

Peningkatan juga terjadi pada kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta menjadi 71,8 persen, serta kelompok berpengeluaran di atas Rp 5 juta yang mencapai 70,9 persen.
Sementara itu, kelompok pengeluaran lainnya justru mengalami penurunan rasio konsumsi terhadap pendapatan.

Tabungan menurun
Dari sisi tabungan, penurunan terlihat terutama pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta sampai Rp 3 juta yang turun menjadi 15,6 persen.

Penurunan juga terjadi pada kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta sampai Rp 5 juta menjadi 16,9 persen.

Kenaikan harga bahan pokok membuat biaya produksi meningkat dan memaksa pedagang menaikkan harga jual.

Kelompok pengeluaran lainnya relatif tidak mengalami perubahan berarti dibandingkan bulan sebelumnya.

Persepsi terhadap kondisi ekonomi masih kuat Di luar perubahan komposisi pengeluaran rumah tangga, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini masih tergolong positif.

IKE Juni 2026 berada di level 109,2, masih berada di atas angka 100 yang menandakan optimisme. Indeks tersebut ditopang oleh tiga komponen utama.

Pertama, Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) sebesar 119,8.

Kedua, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) sebesar 101,8. Ketiga, Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (durable goods) sebesar 105,9.

Ketiga indikator tersebut memang mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi seluruhnya masih berada pada level optimistis.
Secara spasial, sebagian besar kota mengalami penurunan IKE, terutama Makassar, Banten, dan Medan.

Sebaliknya, peningkatan IKE tercatat di beberapa kota seperti Mataram, Padang, dan Palembang.

Dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, persepsi terhadap penghasilan saat ini tetap kuat pada seluruh kelompok masyarakat.

Kelompok dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan mencatat indeks penghasilan tertinggi, yakni 129,2.

Sementara berdasarkan kelompok usia, indeks tertinggi tercatat pada responden berusia 20 sampai 30 tahun sebesar 129,7.

Namun, persepsi mengenai ketersediaan lapangan kerja menunjukkan perbedaan menurut tingkat pendidikan dan usia.

Menurut tingkat pendidikan, hanya responden lulusan sarjana dan akademi/diploma yang masih mencatat indeks optimistis, masing-masing sebesar 109,0 dan 101,2.

Sementara responden dengan tingkat pendidikan lainnya telah berada pada level pesimistis.

Dari sisi usia, persepsi terhadap lapangan kerja masih optimistis pada kelompok usia 20-40 tahun, sedangkan kelompok usia di atas 41 tahun berada pada level pesimistis.

Optimisme enam bulan ke depan tetap bertahan Selain menilai kondisi saat ini, survei juga menggambarkan harapan masyarakat terhadap enam bulan mendatang.

Sebelumnya IEK Juni 2026 tercatat sebesar 126,4, turun dibandingkan Mei yang sebesar 129,7, tetapi tetap menunjukkan optimisme. Indeks tersebut ditopang oleh ekspektasi terhadap penghasilan sebesar 133,6, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja sebesar 124,4, serta ekspektasi kegiatan usaha sebesar 121,2.

Secara wilayah, sebagian besar kota mengalami penurunan IEK, dengan penurunan terbesar terjadi di Padang, Bandar Lampung, dan Medan.

IEK di beberapa kota naik
Di sisi lain, beberapa kota mencatat kenaikan Indeks Ekspektasi Konsumen. Kelompok berpenghasilan tinggi tetap paling optimistis Optimisme terhadap penghasilan enam bulan mendatang masih terlihat pada seluruh kelompok pengeluaran.

Peningkatan indeks hanya terjadi pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta yang mencatat indeks sebesar 138,9.

Kelompok pengeluaran lainnya mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja masih berada pada level optimistis di seluruh tingkat pendidikan, meskipun seluruhnya mengalami penurunan dibandingkan Mei 2026.

Berdasarkan kelompok usia, peningkatan indeks hanya terjadi pada responden berusia 51-60 tahun yang mencapai 121,9.

Untuk ekspektasi terhadap perkembangan kegiatan usaha, seluruh kelompok pengeluaran maupun kelompok usia sama-sama mengalami penurunan indeks.

Meski demikian, kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta tetap menjadi kelompok dengan tingkat optimisme tertinggi, dengan indeks mencapai 126,3, disusul kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta sebesar 118,8.

Secara keseluruhan, hasil Survei Konsumen BI Juni 2026 menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih bertahan pada level optimistis.

Namun, di saat yang sama, komposisi penggunaan pendapatan rumah tangga memperlihatkan perubahan berupa meningkatnya porsi konsumsi dan menurunnya porsi tabungan, sementara pembayaran cicilan relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. (Survei Konsumen BI/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here