JAKARTA, KBKNEWS.id — Keterbatasan penglihatan sejak lahir tak menghalangi Inayatul Kamilah untuk terus belajar dan menyebarkan semangat membaca Al-Qur’an kepada sesama penyandang disabilitas netra.
Perempuan 47 tahun asal Garut yang kini menetap di Cipinang, Jakarta Timur, tersebut memandang kondisi netra yang dialaminya bukan sebagai hambatan, melainkan anugerah dari Allah Swt.
“Saya semangat terus untuk belajar. Saya tidak merasakan ini sebagai keterbatasan sama sekali, ini adalah anugerah dari Allah Swt,” ujar Inayatul.
Sejak kecil, Inayatul mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Saat belajar di pesantren, ia mempelajari Al-Qur’an melalui metode hafalan atau sima’i.
Setelah menikah dan merantau ke Jakarta pada 2008, Inayatul mulai mengenal Al-Qur’an Braille. Kemampuannya membaca huruf timbul semakin diasah ketika ia mulai mengajarkan Al-Qur’an kepada sesama tunanetra pada 2019.
Menariknya, berkat dasar hafalan Al-Qur’an yang telah dimilikinya, Inayatul hanya membutuhkan waktu satu hari untuk menguasai sistem bacaan Braille.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar bagi penyandang disabilitas netra untuk belajar Al-Qur’an adalah mahalnya harga Al-Qur’an Braille. Satu set Al-Qur’an Braille umumnya terdiri dari 30 jilid dan dibanderol sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta.
Selain faktor biaya, proses belajar membaca huruf Braille juga membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Karena itu, banyak penyandang disabilitas netra mengakses pembelajaran melalui lembaga seperti Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).
Untuk mendukung akses terhadap Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas, Dompet Dhuafa bersama ROIS OJK (Kerohanian Islam Otoritas Jasa Keuangan) menyalurkan bantuan Al-Qur’an Braille, Al-Qur’an Isyarat, santunan apresiasi, serta paket sembako.
Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan dalam kajian rutin SELINGAN (Senin Healing Kajian) di Masjid At-Ta’awun, Gedung ROIS OJK, pada Senin (27/7/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Ustazah Nur Indah Harahap menyampaikan bahwa perbedaan kemampuan, termasuk kondisi disabilitas, merupakan bagian dari takdir dan keindahan yang dikehendaki Allah Swt.
Ia mengajak para penerima manfaat untuk terus mengembangkan kesabaran dan rasa syukur agar mampu bangkit, bertahan, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
Bagi Inayatul, bantuan Al-Qur’an Braille bukan sekadar buku dengan huruf timbul. Bantuan tersebut menjadi dukungan untuk terus mengajarkan dan menyebarkan syiar Al-Qur’an kepada sesama penyandang disabilitas netra.
Melalui jemari yang menelusuri huruf demi huruf, Inayatul dan para penyandang tunanetra lainnya membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mendekat kepada Al-Qur’an dan menghadirkan karya yang bermanfaat bagi sesama.





