Delapan Calon Sekjen PBB, Tidak ada dari Indonesia

Sudah ada delapan kandidat Sekjen PBB untuk menggantikan Antonio Guterres yag habis masa jabatannya Desember 2026 ini. (foto: UN()

JAKARTA – (IMBCNEWS) – LIMA perempuan dan tiga laki-laki bakal bersaing menggantikan Antonio Guterres sebagai Sekjen PBB) yang akan mengakhiri jabatannya, Desember mendatang.

Para pengamat seperti dilaporkan CNNI (21/8) sulit menentukan kandidat favorit, mengingat negara-negara besar dunia saat ini terpecah mengenai hasil pemilihan.

Delapan calon Sekjen PBB harus meraih minimal sembilan dari 15 suara negara anggota tetap dan tidak tetap Dewan Keamanan untuk bisa memenangkan jabatan tersebut.

Calon tidak bisa diveto oleh satu negara anggota tetap Dewan Keamanan  PBB, bahkan jika seorang kandidat memperoleh lebih dari sembilan suara yang diperlukan di Dewan Keamanan PBB, tapi diveto oleh salah satu negara anggota tetap, maka suaranya akan gugur.

Ke-delapan kanddat tersebut adalah:

Michelle Bachelet
Berpaham sosialis Chile yang disiksa secara brutal oleh rezim Presiden Augusto Pinochet, Bachelet menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai presiden negara itu pada 2006.

Ia pernah menjadi kepala HAM PBB, sebuah posisi sensitif yang membuatnya berselisih dengan sejumlah negara terutama China.

Saat itu, Badan HAM PBB menyoroti dugaan pelanggaran HAM sistematis yang dilakukan China terhadap kelompok minoritas Muslim Uyghur.

Perempuan 74 tahun itumengatakan sekretaris jenderal PBB harus memiliki “suara moral” untuk memimpin, bahkan ketika berada di bawah tekanan negara-negara besar.

Pencalonan Bachelet didukung oleh Meksiko dan Brasil, tetapi Chile menarik dukungannya setelah presiden sayap kanan ekstrem Jose Antonio Kast mulai menjabat.
Amerika Serikat juga telah mengkritik Bachelet, terutama karena dukungannya terhadap hak aborsi.

Maria Fernanda Espinosa
Mantan menteri luar negeri Ekuador ini menyebut PBB sebagai satu-satunya platform universal untuk menangani tantangan bersama umat manusia.

Espinosa pernah mengutarakan keinginannya soal reformasi yang lebih mendalam terhadap badan dunia tersebut.

Perempuan berusia 61 tahun itu, yang sebelumnya pernah menjadi presiden Majelis Umum PBB, mengusulkan pembentukan sistem “peringatan dini” untuk mendeteksi dan menandai tanda-tanda konflik yang akan terjadi.

Pencalonan Espinosa didukung oleh Antigua dan Barbuda, tetapi tidak oleh negaranya sendiri.

Rafael Grossi
Diplomat Argentina yang memimpin Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sejak 2019 ini turut menjadi salah satu kandidat Sekjen PBB.

Pencalonan pria 65 tahun ini berlangsung di tengah konflik terkait program nuklir Iran serta pendudukan Rusia atas pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia di Ukraina.

Ia tidak mengundurkan diri dari jabatannya saat ini untuk berkampanye sebagai calon sekretaris jenderal PBB, dengan alasan bahwa hal tersebut akan menjadi “pengabaian terhadap tugas”.

Sejumlah pengamat mengatakan ia lebih tegas dalam mendorong reformasi PBB dan meyakini sekretaris jenderal PBB harus mengambil pendekatan yang lebih aktif secara langsung.

Rebeca Grynspan
Mantan wakil presiden Kosta Rika itu kini memimpin badan perdagangan dan pembangunan PBB (UNCTAD). Namun, saat ini ia mengambil cuti dari tugasnya untuk berkampanye memperebutkan posisi tertinggi di PBB.

Pada 2022, Grynspan mencetak prestasi diplomatik dengan menjadi perantara Black Sea Grain Initiative antara Moskow dan Kyiv untuk memungkinkan ekspor gandum di tengah invasi Rusia ke Ukraina.

Perempuan berusia 70 tahun itu kerap menonjolkan kisah pribadinya sebagai putri dari orang tua Yahudi yang menurutnya “nyaris selamat” dari Holocaust sebelum kemudian beremigrasi ke Kosta Rika.

Ia pernah mengkritik PBB dengan menilai badan dunia itu telah berubah menjadi apa yang ia sebut sebagai “organisasi yang konservatif terhadap risiko”.

Sejauh ini, Grynspan dari Kosta Rika digadang-gadang menjadi kandidat terkuat penerus Guterres untuk lima tahun ke depan.

Hal ini terlihat dari jajak pendapat informal pertama yang digelar baru-baru ini untuk mengukur dukungan terhadap masing-masing kandidat Sekjen PBB.

Carolyn Rodrigues-Birkett
Perempuan 52 tahun yang merupakan mantan menteri luar negeri Guyana itu saat ini merupakan duta besar negaranya untuk PBB.

Ia pernah mengatakan PBB perlu memulihkan “kredibilitasnya” di panggung global.
“PBB dinilai melalui perspektif perdamaian dan keamanan. Namun, PBB jauh lebih luas dari itu dan memberikan banyak sekali kontribusi – dalam pembangunan, dalam hak asasi manusia,” katanya.

Ivonne A-Baki
A-Baki merupakan diplomat dan politikus Ekuador yang pernah mewakili Quito sebagai duta besar untuk Washington. Ia dipandang berhasil membangun hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump.

Dinominasikan oleh Tonga, perempuan 75 tahun ini memiliki hubungan kuat dengan negara-negara Teluk setelah pernah menjabat sebagai duta besar Ekuador untuk Qatar.

A-Baki, yang lahir dari orang tua Lebanon, berperan penting dalam memediasi dialog antara Ekuador dan Peru setelah perang perbatasan singkat kedua negara pada 1995.

“Saya telah mengalami kehancuran akibat perang,” tulisnya di media sosial.

“Saya siap membantu memperbarui janji dasar Piagam PBB: menyelamatkan generasi-generasi mendatang dari bencana perang.”

Macky Sall
Macky Sall, 64 tahun, merupakan satu-satunya kandidat yang bukan berasal dari Amerika Latin. Selama ini, mayoritas Sekjen PBB yang terpilih berasal dari kawasan tersebut.
Mantan presiden Senegal tersebut menekankan keterkaitan anara perdamaian dan pembangunan.

Diusulkan oleh Burundi, yang saat ini menjabat sebagai ketua Uni Afrika, Sall akhirnya mendapat dukungan dari negaranya sendiri pekan ini untuk maju dalam pemilihan Sekjen PBB.

Otoritas Senegal menuduhnya melakukan penindasan berdarah terhadap demonstrasi politik yang berlangsung antara 2021 dan 2024 dan menewaskan puluhan orang.

Olara Otunnu
Otunnu pernah menjabat sebagai wakil sekretaris jenderal PBB dan perwakilan khusus untuk anak-anak dan konflik bersenjata dari 1997 hingga 2005 di bawah Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Kofi Annan.

Pria 75 tahun itu juga pernah menjadi utusan Uganda untuk PBB dan menjabat sebagai menteri luar negeri negaranya dalam waktu singkat.

Otunnu mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dari oposisi Uganda People’s Congress dalam pemilu 2011, tetapi kalah dari pemimpin lama Yoweri Museveni, yang telah berkuasa sejak 1986. (CNNI/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here