Tujuh Hari Pascagempa, Warga Manggarai NTT Keluhkan Minimnya Bantuan Logistik dan Tenda Pengungsian

MANGGARAI, KBKNEWS.id — Sepekan pascagempa bumi melanda, kondisi para korban terdampak di wilayah Kecamatan Reok masih memprihatinkan. Hingga hari ketujuh, warga pengungsi dilaporkan masih berjuang menghadapi keterbatasan kebutuhan dasar harian serta minimnya fasilitas penampungan yang memadai.

Pantauan KBKNEWS.id, Jumat (21/8/2026), kondisi sulit tersebut salah satunya dirasakan langsung oleh warga Dusun Lengkorang, RT 09/RW 09, Desa Salama, Kecamatan Reok, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Warga setempat mengaku mulai mengalami krisis bahan makanan pokok, ketiadaan pasokan air minum bersih yang layak, serta ketiadaan tenda darurat resmi dari pihak terkait.

K

Salah seorang warga Desa Salama, Makmur, mengungkapkan bahwa warga terpaksa berinisiatif mendirikan tenda darurat secara swadaya demi bertahan hidup. Namun, kondisi tenda seadanya tersebut sangat rentan dan tidak mampu melindungi warga secara optimal dari terpaan cuaca.

“Keadaan kami selama 7 hari gempa, Pak: kekurangan bahan makanan, air minum bersih, tenda. Tenda ini kami bikin tenda mandiri sendiri, Pak. Tenda agak bocor, takutnya hujan dengan posisi tidur di bawah tanah. Takutnya hujan besar pasti basah, Pak,” ujar Makmur.

Terkait distribusi logistik dari pemerintah, Makmur mengakui memang ada bantuan yang telah masuk. Kendati demikian, pasokan logistik yang tiba dinilai sangat minim dan jauh dari kebutuhan riil warga yang mengungsi selama satu pekan penuh.

Menurut penuturannya, Desa Salama baru menerima bantuan berupa 1,5 ton beras dan 40 kardus mi instan dari pihak pemerintah kecamatan. Jumlah tersebut dinilai sangat tidak proporsional jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mencapai ratusan kepala keluarga (KK).

“Kalau bantuan dari pemerintah alhamdulillah ya, tapi tidak sesuai yang kami harapkan. Karena memang kemarin, di Desa Salama cuma kami dapat beras 1 ton 500 dengan 40 kardus mi instan untuk satu desa. Sedangkan satu desa itu 611 KK. Jadi cuma 2 kilo, 2 kilo setengah per KK dengan mi 2 bungkus, Pak. Itu dari kecamatan untuk kami Desa Salama. Sebelum itu tidak ada, Pak,” ungkapnya merinci pembagian tersebut.

Kondisi tersebut memicu kekecewaan warga terhadap pola manajemen dan kebijakan penyaluran bantuan oleh pihak pemerintah kecamatan. Warga mendengar bahwa bantuan yang masuk untuk wilayah Kecamatan Reok sebenarnya cukup melimpah, namun alokasi serta pemerataannya di tingkat desa dinilai belum transparan dan optimal.

“Harapan ke depannya itu karena memang bantuan untuk Kecamatan Reok itu banyak melimpah, Pak. Hanya kan yang kami bingung itu, ke mana bantuan itu? Iya, kami agak kecewa dengan kebijakan pemerintah kecamatan… pemerataannya. Karena kami khususnya Desa Salama ini baru sekali, Pak. 1 ton 500 baru kemarin dengan mi instan. Terus ke mana selama ini, Pak? Itu pun bukan cuma desa kami, hampir semua desa,” pungkas Makmur berharap pemerintah segera mengevaluasi sistem distribusi bantuan bencana agar merata dan adil.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here