JAKARTA, KBKNEWS.id — Dompet Dhuafa hadir memberikan dukungan kepada keluarga Bambang Setiawan (60), tukang kaca di kawasan Pejompongan, Jakarta, yang meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan di tengah situasi demonstrasi pada Kamis (27/8/2026).
Bambang diketahui tidak terlibat dalam bentrokan. Saat kejadian, ia justru tengah menjalankan aktivitas sehari-hari dan sebelumnya sempat membantu mengantar seorang tetangganya yang sakit ke RS Pelni.
Usai mengantarkan tetangganya, Bambang berniat pulang untuk membersihkan diri sebelum kembali ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan, ia melihat toko kacanya yang berada dekat lokasi demonstrasi masih menyalakan lampu.
Demi menghemat energi, Bambang kemudian meminta kunci toko kepada istrinya untuk mematikan lampu. Saat menuju toko tersebut, situasi di sekitar Pejompongan mendadak memanas. Bambang terjebak dalam kericuhan hingga mengalami luka berat yang kemudian merenggut nyawanya.
Putranya, Wisnu (35), sempat mencari sang ayah ke sejumlah rumah sakit. Pencarian tersebut berakhir pilu setelah RS Polri mengonfirmasi bahwa Bambang telah meninggal dunia.
Di mata keluarga, Bambang merupakan sosok pekerja keras yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Wisnu mengenang sang ayah sebagai pribadi tangguh yang tetap berjuang meski menghadapi masa-masa sulit.
Bambang bahkan pernah mengalami kondisi ketika dagangannya tidak laku selama sekitar tiga bulan. Dalam situasi tersebut, ia rela menahan lapar dan hanya mengonsumsi minuman jeli agar keluarganya tetap bisa makan.
Bambang juga selalu mengajarkan anak-anaknya untuk berbuat baik kepada siapa pun.
“Bapak selalu menyuruh anak-anaknya untuk selalu berbuat baik kepada siapa pun, karena kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang akan berbalik kepada kita,” ujar Wisnu kepada Tim Program Layanan Mustahik (Lamusta) LPM (Lembaga Pelayan Masyarakat) Dompet Dhuafa.
Pascakejadian, Tim Lamusta Dompet Dhuafa menyambangi kediaman keluarga Bambang. Selain menyampaikan dukungan moril, Dompet Dhuafa memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kehadiran tersebut menjadi bentuk kepedulian Dompet Dhuafa terhadap keluarga Bambang yang tengah menghadapi kehilangan sekaligus masa sulit setelah kepergian tulang punggung keluarga.
Kisah Bambang menjadi pengingat bahwa di tengah situasi yang penuh gejolak, masyarakat kecil kerap menjadi pihak yang paling rentan terdampak. Di balik kepergiannya, Bambang meninggalkan teladan tentang kerja keras, kepedulian kepada sesama, dan pesan sederhana untuk terus berbuat baik.





