JAKARTA, KBKNEWS.id — Penanganan bencana tidak selalu berhenti pada distribusi bantuan logistik. Di tengah masa tanggap darurat gempa Nusa Tenggara Timur (NTT), Dompet Dhuafa turut menghadirkan layanan medis dan dukungan psikososial bagi masyarakat di wilayah pelosok.
Dompet dhuafa menjangkau masyarakat adat di Kampung Adat Tulubadha, Desa Rendhu Tulubadha, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo.
Gempa yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 berdampak pada berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak-anak, lansia, penyandang disabilitas hingga masyarakat adat. Selain kerusakan fisik, bencana juga meninggalkan dampak psikologis bagi para penyintas.
Di Kampung Adat Tulubadha, warga masih hidup dalam situasi waspada. Suster Burga, warga asal kampung tersebut yang kembali setelah 30 tahun tinggal di Jawa, mengatakan masyarakat masih sering kembali ke pos pengungsian setelah melakukan aktivitas seperti mengecek sawah dan ternak.
“Kesan saya, kurang lebih sudah ada dua minggu di sini, saya merasa luar biasa, tanggap darurat, karena masyarakat di sini masih dibantu,” ujar Suster Burga.
Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) menghadirkan layanan Psychological First Aid (PFA) dengan kegiatan permainan, lomba, mendongeng, serta edukasi mitigasi bencana. Layanan tersebut ditujukan untuk membantu penyintas menghadapi tekanan psikologis pascabencana.
Tak hanya pendampingan psikososial, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa juga memberikan pemeriksaan medis gratis kepada warga pada Sabtu (29/8/2026).
Bagi Suster Burga, layanan kesehatan tersebut sangat berarti bagi warga yang tinggal jauh dari pusat kota dan fasilitas kesehatan.
“Kadang warga menerima bantuan dalam bentuk sembako atau apa saja. Tapi hari ini luar biasa dari bagian medis yang membantu, sehingga mereka-mereka ini kan juga termasuk hidup yang agak jauh dari kota atau kecamatan,” katanya.
Ia menilai kehadiran tenaga medis dari luar daerah memberikan kekuatan tersendiri bagi masyarakat yang masih berada dalam kondisi trauma.
“Kalau mereka memeriksanya ke lab-lab itu (rumah sakit), biayanya mahal. Dalam situasi agak trauma, mereka dikunjungi itu kan memberi mereka kekuatan,” tuturnya.
Respons tersebut menjadi bagian dari komitmen Dompet Dhuafa dalam menghadirkan pelayanan kemanusiaan yang inklusif. Melalui pilar Sarana untuk Pelayanan Kelompok Rentan (SUPER), kelompok rentan ditempatkan sebagai prioritas dalam penanganan bencana.
Dengan pendekatan tersebut, respons terhadap gempa tidak hanya berfokus pada bantuan logistik, tetapi juga memastikan masyarakat di wilayah terpencil memperoleh akses terhadap layanan kesehatan, dukungan psikososial, dan edukasi mitigasi bencana.
Dompet Dhuafa berharap pendampingan tersebut dapat membantu masyarakat adat dan penyintas gempa NTT melewati masa tanggap darurat, memulihkan kondisi fisik dan psikologis, serta kembali menata kehidupan mereka.





