JAKARTA, KBKNEWS.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau, pada pertengahan Juli 2025, dan kondisi tersebut ditandai dengan meningkatnya titik panas yang terpantau melalui citra satelit.
Merespons kondisi tersebut, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa mengerahkan tim tanggap darurat ke wilayah Kecamatan Sungai Pinang dan Rantau Panjang pada 27 Juli 2025.
Tim berkoordinasi dengan BPBD, TNI, Polri, serta masyarakat peduli api (MPA) untuk melakukan pemadaman dan pendinginan titik api.
Selain menangani titik panas, relawan DMC juga melakukan pemantauan langsung atau ground check serta membagikan masker kepada warga. Edukasi mengenai bahaya asap dan langkah mitigasi juga diberikan, khususnya kepada masyarakat di sekitar lokasi terdampak.
Relawan DMC Dompet Dhuafa, Yadi Maulana, mengatakan sejumlah titik panas mulai berkurang setelah dilakukan pemadaman dan pendinginan. Hujan yang turun di sejumlah wilayah Rokan Hilir turut membantu proses pendinginan.
“Pada Sabtu (26/7/2025) siang turun hujan di sekitar pemukiman warga sehingga dapat mengurangi ketebalan kabut asap. Titik-titik api sudah jauh berkurang dari hari-hari sebelumnya,” ujar Yadi.
Berdasarkan hasil asesmen tim di lapangan, sekitar 15 jiwa terdampak gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sebagai langkah pencegahan, DMC membagikan masker ke sejumlah sekolah di sekitar lokasi kebakaran sekaligus memberikan edukasi mengenai bahaya asap.
Penanganan karhutla juga dilakukan pemerintah melalui berbagai upaya. BNPB mengerahkan lima helikopter water bombing untuk memadamkan kebakaran di wilayah terdampak. Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan untuk membantu meningkatkan potensi hujan di kawasan Rokan Hilir dan sekitarnya.
Pemprov Riau sebelumnya menetapkan status tanggap darurat karhutla sejak 22 Juli 2025. Status tersebut memungkinkan percepatan mobilisasi sumber daya dan bantuan untuk menangani kebakaran.
Kepala DMC Dompet Dhuafa, Shofa Qudus, mengatakan keterlibatan relawan di lapangan merupakan bagian dari komitmen kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
“Penugasan relawan dan tim DMC di lapangan menunjukkan komitmen tinggi. Dalam latihan mitigasi sebelumnya, DMC sering mengoperasikan pos logistik seperti dapur umum, pos medis, safe house, serta distribusi masker—apapun situasinya, kesiapsiagaan selalu menjadi prioritas utama,” ujar Shofa.
Koordinasi lintas lembaga dinilai menjadi bagian penting dalam menangani karhutla, terutama di wilayah gambut yang memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam proses pemadaman.
Kehadiran DMC Dompet Dhuafa menjadi salah satu bentuk respons kemanusiaan untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kebakaran dan asap.





